Segera setelah jasad itu terkubur, satu per satu orang mulai pergi, dan membicarakan siapa yang akan menjadi kepala desa selanjutnya, mengabaikan sesosok gadis yang masih bersimpuh di depan gundukan tanah merah bertabur bunga. Isak tangisnya tidak nyaring terdengar, tetapi kepalanya tertunduk dalam dengan bahu bergetar.
Tangan seorang pria meraih bahu gadis itu. Dengan isyarat lembut, mengajaknya segera pulang. Namun, gadis itu enggan beranjak dari tempatnya. Pria itu berjongkok tepat di samping sang gadis, tidak berkata sepatah kata pun. Hanya menemaninya, memberikan usapan lembut di bahu seolah-olah mengatakan bahwa masih ada ia di sisinya.
Langit mendung, tetes hujan mulai turun dan membasahi keduanya. Gadis itu masih bergeming, tak memedulikan tubuhnya yang kuyup.
"Ayo, pulang, Terra," ucap Dante yang sedari tadi berusaha melindungi gadis itu dari rintik hujan dengan menjadikan kemeja hitamnya sebagai payung sedang dirinya sendiri bertelanjang dada.
"Aku harus pulang ke mana, Kak?" Suaranya bergetar, pelan, nyaris terlahap oleh gemuruh hujan yang semakin deras. "Aku sudah tidak punya siapa-siapa."
"Ada Bi Sri yang menunggu di rumah." Dante merengkuh tubuh gadis itu. "Sebelum pergi, Bi Sri berpesan agar aku membawamu pulang sebelum magrib."
Terra menggeleng. Untuk apa Bi Sri masih berada di rumahnya, sedangkan pengabdiannya itu ditujukan untuk ayah dan ibunya?
"Dek Terra ... Dek Terra!" Suara kecipuk bersamaan dengan teriakan panik seorang wanita yang tersamar gemuruh hujan berhasil mengalihkan atensi muda-mudi itu. Seorang wanita paruh baya berlari-lari kecil tanpa alas kaki di bawah payung yang dibawanya.
"Lihat, Bi Sri datang nyariin kamu sampe lari-lari begitu. Dia pasti khawatir banget sama kamu. Kita pulang, ya?" Dante mencoba membujuk gadis itu. Terra bergeming.
"Dek Terra, Dek Dante ... ayo pulang, hujannya semakin lebat." Bi Sri dengan wajah panik memberikan satu payung yang langsung disambut oleh Dante. Lelaki itu mendekap tubuh Terra, sedikit memaksa wanita itu untuk berjalan pulang.
Segala sesuatu tak lagi berjalan seperti biasanya ketika Terra menginjakkan kaki di rumah. Kekehan berlebihan yang dulu sering ia abaikan karena dirasa menyebalkan, kini berubah menjadi kerinduan.
Bulir bening di mata Terra kembali menetes. Ia mematung di ambang pintu, memperhatikan seisi rumah.
"Terra, aku pulang dulu."
Tidak ada jawaban dari Terra, Dante pun berpamitan pada Bi Sri lantas berlari-lari kecil menjauh dari rumah itu. Sebenarnya, ingin ia menemani gadis itu untuk beberapa waktu lagi, tetapi ia pun memiliki seseorang yang harus dijaganya di rumah.
"Ayo, Dek, masuk, Bibi siapin air hangat buat mandi biar gak masuk angin." Bi Sri menuntun Terra untuk masuk ke dalam rumah.