Terra

aksara_g.rain
Chapter #2

Bab 2 : Petisi

Udara pagi berembus pelan mengantarkan sejuk ke tubuh Dante dan pemuda yang tengah merapikan meja dan kursi-kursi plastik. Menata bilik dan kotak suara, memastikan tidak ada kecurangan di sana. Surat suara telah terlipat rapi di kardus, dan daftar nama warga yang akan melakukan pemilihan telah tercatat dengan baik.

Orang-orang mulai berdatangan, entah itu bersama anggota keluarganya, berjalan sendiri atau pun bergerombol dengan tetangga-tetangga lainnya. Suasana mulai ramai dengan obrolan-obrolan ringan. Anak-anak berlarian dan senang bertemu dengan sebayanya. Udara bercampur dengan keringat dan bau asap rokok.

Acara dimulai dengan sambutan dari Ki Jawi sebagai tetua, penyampaian visi misi dari kedua kandidat, lalu dilanjutkan dengan arahan dari Gama tentang tata cara pemilihan.

Panitia sudah siap duduk di mejanya dengan tugas masing-masing, sedangkan di sisi lain Hadi yang mengenakan celana bahan berwarna hitam dipadukan atasan batik duduk bersebelahan dengan David yang memakai setelan jas mencolok berwarna keemasan dan dasi merah menyala. Di sisi kanan kiri mereka ada Ki Jawi dan Gama.

Panitia mulai memanggil satu per satu nama untuk maju dan mengambil surat suara, masuk ke dalam bilik suara dan memilih satu kandidat pilihannya, lalu menyimpannya ke kotak suara dan mencelupkan salah satu jarinya ke tinta.

Karena jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak, pemungutan suara selesai sebelum jam lima sore, dan langsung dilanjutkan dengan penghitungan suara. Beberapa orang, terutama ibu-ibu yang membawa serta anaknya ke balai desa sudah pulang lebih dulu. Kini balai desa hanya dihadiri beberapa pria yang akan menjadi saksi penghitungan suara.

Bakda magrib, bapak-bapak mulai kembali berkumpul di balai desa demi menyaksikan penghitungan suara dan mengetahui siapa yang menjadi kepala desa baru.

Udara dingin mulai menyeruak, beberapa orang merapatkan sarung yang dijadikan selimut untuk menutupi tubuhnya. Yang lainnya merapatkan jaket sambil menyesap rokok dalam-dalam dan menyemburkan asap yang mengepul, mengambang di udara lalu hilang. Sedangkan panitia yang bekerja dari pagi mengibas-ngibaskan bajunya untuk mengusir hawa panas, tubuhnya sudah dibanjiri keringat, meski sudah mendapat giliran istirahat yang dilakukan bergantian dengan panitia lainnya.

Pemenang tidak dapat diprediksi dengan pasti, jumlah suara selalu susul menyusul, membuat penonton heboh membicarakan siapa yang akan menang. Mereka bersorak ketika jumlah suara Hadi menyusul, bahkan jauh meninggalkan jumlah suara David, lalu kemudian mereka mengerang kecewa ketika jumlahnya seimbang lagi dan David memimpin.

Penghitungan suara akhirnya selesai dengan jumlah akhir Hadi mengungguli David dengan selisih enam suara.

"Alhamdulillah, semua rangkaian acara telah selesai, dan kita ucapkan selamat kepada Pak Hadi yang menjadi kepala desa baru kita." Gama menutup acara, tetapi sebelum ucapannya benar-benar selesai, David mengambil mikropon dari tangan Gama.

David berdiri congkak, "Tidak ada yang berubah, aku tetaplah orang paling kaya di sini. Dan untuk kalian yang tidak tahu berterima kasih padaku karena diberikan pekerjaan tetapi memilih Hadi, aku akan mencatat nama kalian." David melemparkan mikropon kepada Gama dan pergi diikuti anak buahnya.

Beberapa orang meneguk ludah susah payah, wajahnya memucat setelah mendengar ucapan David.

"Ah, ya. Sekali lagi selamat bertugas untuk Bapak Hadi, dan terima kasih atas kerja keras panitia dan juga warga yang menyaksikan dan turut memberikan suaranya untuk pemilihan ini." Gama kembali memegang kendali.

Lihat selengkapnya