Terra

aksara_g.rain
Chapter #3

Bab 3 : Sadarlah

"Kenapa, Bi?" Terra menghampiri Bi Sri yang termenung di halaman sambil memegang secarik kertas.

"Ini, Dek, Pak Hadi bagiin petisi." Bi Sri memamerkan kertas di tangannya yang langsung di sambut oleh Terra.

"Petisi apa ini?" Gadis itu mengerutkan dahi, lalu mulai membaca.

"Itu, Dek, soal hutan kita yang akan dijadikan lahan sawit." Wanita paruh baya itu tampak gelisah.

"Oh." Hanya itu saja tanggapan Terra setelah membaca isi petisi itu sekilas dan mengembalikan kertas itu ke Bi Sri. Lalu, duduk di bangku panjang yang terbuat dari bambu hitam di halaman.

"Kalau hutan kita digunduli, habis sudah desa kita, Dek." Bi Sri ikut duduk di sebelah Terra. Tangannya tidak bisa diam meremas-remas ujung bajunya. "Entah akan jadi apa nantinya desa kita ini."

Terra bergeming, matanya menatap jauh. Jalan setapak terbentang jauh, berkelok-kelok melewati palawija dan bercabang ke setiap rumah yang jaraknya berjauhan. Bapak-bapak bercakap akrab di gubuk tengah-tengah lahan, siap untuk bekerja. Ibu-ibu bergerombol membawa keranjang cucian menuju sungai. Suara burung meramaikan suasana pagi itu.

Bi Sri bangkit berdiri, berjalan ke dapur dan membawa seember dedak, disiramnya dengan air panas dan diaduknya hingga merata. Dibawanya dedak itu ke kandang di belakang rumah.

Terra mengkuti Bi Sri ke belakang, bukan untuk membantunya memberi makan ayam, tetapi untuk melihat pohon besar yang menjadi batas anatara desa dan hutan. Daun-daunnya yang rimbun membawa hawa sejuk ke sekitar rumah panggung dengan bilik bambu dan alas papan.

Terra memandang takjub pohon besar yang sudah tak ia lihat sedekat ini dalam waktu yang lama. Namun, ketika sekelebat ingatan datang lagi, gadis itu memalingkan muka dan pergi dari halaman belakang. Ia membenci hutan itu, hutan yang telah merenggut nyawa orang tuanya.

Seandainya ia telah cukup umur untuk menjadi kepala desa, maka tanpa pikir panjang ia akan menyetujui proyek kelapa sawit itu.

Bi Sri kembali setelah selesai memberi makan ayam-ayam itu. "Dek, sepertinya kita harus melakukan sesuatu untuk mencegah proyek itu." Wanita itu menggigit bibir bawahnya.

"Biarkan sajalah, Bi." Terra menanggapi dengan acuh tak acuh.

"Kalau dibiarkan—"

"Sudahlah, Bi! Hutan itu sudah merenggut keluargaku, kan? Biar saja mereka mau melakukan apa pun pada hutan itu." Terra menyela ucapan Bi Sri dengan nada tinggi. "Ayah dan ibuku, mereka terlalu bodoh membuat keputusan. Kalau saja mereka membiarkan saja hutan itu dijadikan lahan sawit, mungkin aku masih bersama mereka sekarang."

Bi Sri melihat kilatan amarah di mata Terra. "Bukan hutan itu yang membunuh orang tuamu. Tapi mereka yang rakuslah yang menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya."

Lihat selengkapnya