Terra

aksara_g.rain
Chapter #4

Bab 4 : Kembali

Perkataan Bi Sri yang terus berputar di kepalanya, membuatnya merasa terganggu. Semalaman ia tidak tidur sama sekali, pikirannya berkecamuk antara amarah dan juga rasa sedih atas kenangan kematian ayah ibunya yang terus menghantui.

Pagi menjelang, Terra bangkit dari kasur sambil mengucek matanya yang memerah. Beberapa kali ia menguap hingga akhirnya beranjak ke kamar mandi untuk membasuh muka, menghilangkan letih karena kurang tidur. Senandung merdu terdengar seiring dengan gemerisik daun-daun yang disapu. Terra menuju pintu belakang dan membukanya. Tampak Bi Sri sedang menyapu halaman belakang sambil bersenandung riang.

"Udah bangun, Dek? Mau dibikinin sarapan apa?" Bi Sri berhenti bersenandung saat menyadari kehadiran Terra.

"Nanti aja, Bi." Terra menggeleng. Ia mendongak ke arah pohon besar yang tumbuh tak jauh dari halaman belakang, di belakangnya tumbuh pohon-pohon besar lainnya

. Semilir angin menggoyangkan daun-daunnya yang sebagian berguguran, membuat Bi Sri harus kembali menyapu. Gadis itu menuruni tangga dan menapak tanah tanpa alas kaki, berjalan ke bangku panjang di bawah pohon besar itu, tempat ayah dan ibunya bercengkerama mesra. Tempat ayahnya termenung sendirian sepeninggal istrinya, juga tempat Terra bersembunyi dari riuhnya orang-orang.

Ia sudah lama sekali tidak duduk di sana semenjak ayahnya meninggal. Salah satu kakinya mulai lapuk dimakan rayap. Sebenarnya, Terra selalu enggan duduk di sana sepeninggal ibunya, hanya saja ayahnya selalu memaksa dengan berbicara seperti orang bijak. "Ibumu masih hidup di tempat ini, dan juga di hati kita." Namun, ucapan itu justru membuat hati Terra tersayat.

Terra mengusap bangku panjang itu, kehangatan mendera tubuhnya seolah-olah ayah dan ibunya ada di sana melemparkan berbagai lelucon konyol dan tertawa-tawa. Tanpa ia sadari bibirnya tertarik ke atas membentuk lengkung senyum, tetapi tetesan hangat pun melewati pipinya tanpa bisa ditahan. Gadis itu didera oleh kerinduan yang teramat sangat.

Ia mendongak, merebahkan diri di atas bangku panjang itu dengan kedua tangan tersilang menopang kepalanya. Daun-daun dari pohon besar itu bergoyang lembut, seolah ingin mengajaknya pergi lebih jauh lagi.

"Dek, Bibi udah bikin pisang goreng sama susu. Ayo, sarapan dulu." Suara Bi Sri terdengar dari pintu belakang.

"Iya, Bi." Terra bangkit, lalu menatap linglung dan bertanya-tanya sejak kapan Bi Sri pergi dari halaman belakang dan berapa lama waktu yang ia habiskan di bangku panjang itu sehingga Bi Sri sempat membuatkanya pisang goreng. Gadis itu mengusap sisa-sisa air mata di pipinya dan segera menyusul Bi Sri di meja makan setelah sebelumnya membersihkan kakinya yang kotor.

"Bi, hari ini aku gak ke sekolah, deh," ucap Terra saat menyantap pisang goreng di piringnya.

"Kenapa?" Bi Sri yang tengah jongkok di pancuran untuk mencuci piring menoleh.

"Mau pergi ke suatu tempat." Terra memalingkan wajah. "Aku mungkin akan mempertimbangkan ucapan Bibi kemarin."


***

Lihat selengkapnya