Terra

aksara_g.rain
Chapter #5

Bab 5 : Gagal Panen

Sinar mentari menampakkan diri, tetapi panasnya tidak bisa menyaingi amarah orang-orang pagi itu. Semua orang membicarakan soal tanaman palawija yang tiba-tiba mati dalam semalam. Bukan hanya ladang milik satu atau dua orang saja yang mengalami mati mendadak. Tanaman yang sedang menghijau tiba-tiba layu, menguning, bahkan kering kerontang, padahal di hari sebelumnya masih segar dan sehat.

Seorang pria berperawakan tinggi tegap dengan rambut panjang yang diikat, datang menghampiri bapak-bapak yang tengah sibuk mengeluh soal ladangnya.

"Tanaman palawija memang sering kena hama. Mungkin seharusnya kita coba tanaman lain." Semua orang di sana tidak ada yang tak kenal lelaki gondrong itu. Karman, salah satu anak buah David yang dekat dengan penduduk desa.

"Tanaman apa?" Tanya salah seorang dari bapak-bapak yang berkumpul resah di salah satu saung bambu di tengah-tengah ladang.

"Sawit." Karman duduk bersila di pelataran saung bersama yang lainnya.

"Kau hanya ingin mendapat keuntungan dari Pak David dengan membujuk kami, kan?" tuduh pria berkepala botak yang ditutupi topi lebar.

"Aku hanya mengusulkan keuntungan yang lebih bagus untuk kalian. Lebih bagus lagi kalau kalian menandatangani petisi itu. Dengan begitu, kalian bisa mendapatkan untung dari ladang kalian, dan juga dari sawit." Karman mengeluarkan kotak rokok dan korek api dari saku. Menggoyang-goyangnya hingga satu batang keluar, mengapitnya di mulut dan mulai menyalakan korek api.

"Apa untungnya itu bagi kami? Yang ada hanya kalian antek-antek David yang akan mengeruk uang itu dari kami." Pria tua berjenggot putih itu menunjuk-nunjuk Karman dengan tangan gemetar. Pria lainnya mengangguk setuju.

"Tentu saja tidak. Hutan itu milik kita semua, hasilnya pun akan dibagi rata. Kalian bisa menjadi petani sawit dengan upah yang lebih bagus dari mengurus ladang." Karman mengembuskan asap putih yang langsung memudar ketika tertiup angin. "Kalian tahu? Harga sawit itu mahal, lagipula kita bisa panen berkali-kali dalam sebulan. Bayangkan, dalam beberapa tahun saja kalian akan bisa membangun rumah bagus dan kendaraan sendiri untuk pulang pergi ke kota."

Beberpa pria mengangguk-angguk dan mulai tergiur dengan bujukan itu. "Sepertinya kita harus mencobanya."

"Omong kosong!" Tiba-tiba saja suara teriakan itu datang dari belakang. Sejak tadi Terra mengendap-endap di belakang saung untuk mendengar percakapan bapak-bapak itu.

Ketika ia hendak pergi ke sekolah, keributan di mana-mana, dan ladang yang tiba-tiba kering kerontang menghentikan laju sepedanya dan gadis itu memilih untuk melihat-lihat tanaman palawija yang mati tanpa sebab itu. Lalu ia mendekati kerumunan bapak-bapak ssaat melihat kedatangan anak buah David.

"Wah, apa yang dikatakan bajingan kecil ini?" Karman bangkit berdiri, membuat Terra harus mendongak demi menatap wajah sangarnya.

"Leluhur kita sudah marah. Karena kita berniat untuk menghilangkan hutan kita." Terra masih ingat kata-kata ayahnya yang bilang bahwa penduduk desa lebih percaya mitos.

Lihat selengkapnya