"Kak Dante!" Terra berteriak saat mendapati pria kurus muncul di jalan setapak menuju rumahnya dengan berbalut batik yang dipadukan celana bahan hitam, sepatu senada yang sudah tertutup debu, tersampir di pundaknya tas lusuh bergambar tengkorak yang sudah memudar.
Dante tersenyum, menghampiri gadis itu lalu duduk di bangku panjang sebelah Terra. "Kamu gak berangkat sekolah lagi, hah?" Dante mengacak-ngacak rambut Terra.
"Hei, jangan diacak-acak." Terra menepis tangan Dante dan menjauhkan kepalanya dari jangkauan pemuda itu.
"Lalu, kenapa gak sekolah?" Dante berhenti menjahili gadis itu.
"Hari ini ... ada hal menarik." Terra memalingkan wajah.
"Ngeles mulu." Dante menyentil dahi Terra pelan.
"Aw ...." Terra refleks memukul tangan pemuda itu. "Pak Dante!"
"Heh, sudah kubilang panggil 'Pak' kalau di lingkungan sekolah saja." Dante hendak menjentikkan jarinya lagi di dahi gadis itu, tetapi Terra menjauhkan wajahnya secepat kilat sehingga sentilan itu hanya menyentuh udara.
Dante adalah seorang guru honorer yang mengajar di sekolah gadis itu, sekaligus teman masa kecil Terra meski usianya terpaut cukup jauh. Ia tidak senang dipanggil 'Pak' oleh temannya sendiri dengan alasan ia masih muda dan belum pantas disebut 'Bapak', meski mau tak mau di lingkungan sekolah Terra tetap memanggilnya 'Pak'.
"Soalnya Pak Dante nyebelin." Terra mengeluarkan lidahnya mengejek.
Dante mengembuskan napas panjang. "Jadi, ada kejadian apa hari ini sampai kamu gak masuk sekolah?"
"Yah, Kak Dante mungkin tahu sendiri keributan yang terjadi tadi pagi. Semua ladang warga tiba-tiba mati." Terre akhirnya menceritakan apa yang terjadi tadi pagi, bagaimana ia mendebat Karman dan bagaimana warga desa mulai berpihak pada David karena diiming-imingi keuntungan besar juga soal kemungkinan anak buah David menebar racun ke ladang warga.
Dante mangangguk-angguk, wajahnya datar, matanya menatap kosong ke jalan setapak yang tadi dilaluinya. Ia memejamkan mata, bayangannya penuh dengan ladang-ladang yang kering kerontang di sisi-sisi jalan sepanjang yang ia lalui.
"Gila, gak, sih? Ada orang biadab yang mau ngelakuin hal jahat kayak gitu buat keuntungannya sendiri!" Terra tidak bisa menahan amarahnya.
Dante terdiam, ia mencengkeram ujung bangku panjang yang terbuat dari bambu itu kuat-kuat.
"Kak Dante! Malah bengong, ih." Terra protes melihat pria itu membisu. Biasanya Dante akan ikut protes dan marah jika membahas soal kejahatan David yang sudah seringkali merugikan warga desa.
"Ah, iya. Mereka gila." Suara Dante serak, tenggorokannya tercekat sesuatu yang menyeruak dalam dirinya.