Regrow Up berkembang pesat.
1.200 ecobrick terkumpul. 7 sekolah dasar dikunjungi. 5 taman bacaan dibangun. Media mulai meliput.
Kael diwawancarai radio kampus.
Host: "Kael, apa yang membuatmu bersemangat tentang ecobrick?"
Kael: "Karena ini adalah sihir nyata. Kita ubah sampah menjadi sesuatu berguna. Dan anak-anak belajar bahwa mereka bisa berbuat sesuatu. Mereka tidak perlu menunggu pemerintah."
Di luar studio, Pribawanto pejabat Dinas Lingkungan Hidup berdiri di balik jendela. Matanya menyipit. Ia mencatat sesuatu di buku kecil, lalu tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke mata.
3 Bulan Kemudian
Regrow Up mulai mendapat perhatian tak diinginkan.
Pribawanto datang ke kampus dan "meminta" Kael untuk tidak membicarakan isu sampah di depan umum. Proposal Regrow Up untuk program ecobrick skala kota ditolak tanpa alasan. Seorang "oknum" datang ke kos Kael dan menawarkan uang untuk menghentikan kegiatannya.
Kael menolak.
"Saya tidak butuh uang. Saya butuh sungai bersih, anak-anak sehat, dan masa depan yang tidak tenggelam dalam plastik."
Pribawanto tersenyum tipis. Matanya memantulkan cahaya kuning pucat seperti layar judi online atau nyala api hijau yang tidak alami. Ia mengambil pena dari sakunya sebuah pulpen mahal berlapis emas dan menekannya ke meja Kael dengan pelan tapi penuh tekanan.
"Kau tahu, Kael, anak muda yang baik adalah anak muda yang tidak banyak bicara."
"Dan pejabat yang baik," balas Kael, "adalah pejabat yang bekerja, bukan hanya bicara."
Pribawanto tidak menjawab. Ia menarik penanya, berjalan ke pintu, dan berhenti sejenak tanpa menoleh.
"Kau akan menyesal, Nak."
Di koridor, ia menghubungi seseorang. Suaranya pelan, tetapi kata-katanya terdengar jelas.
"Siapkan 'acara' di museum. Kita akan beri dia pelajaran."
Ia mengakhiri panggilan. Di layar ponselnya, sebuah simbol berkedip segitiga daur ulang yang terbalik. Lalu padam.
Kael kembali ke salah satu SD yang telah mereka bantu. Anak-anak lebih sehat, lebih bahagia, lebih sadar lingkungan. Seorang gadis kecil memegang tangannya.
"Om Kael, suatu hari aku ingin menjadi seperti Om. Menyelamatkan bumi."
Kael tersenyum. "Kau bisa. Kau sudah melakukannya."