Blurb
Lantai semen gudang tua itu terasa sedingin es, namun tidak sedingin rasa hampa di dada Embun. Surat penyitaan rumah dan toko kuenya baru saja berstempel merah di atas meja. Di sudut lain, ponselnya bergetar, menampilkan pesan teks dari mantan tunangannya yang memilih pergi bersama modal usaha yang tersisa.
Embun menatap telapak tangannya yang kasar karena jam kerja yang tidak manusiawi. Kenapa harus aku? Apa belum cukup semua ini? tanyanya pada sunyi. Air matanya jatuh, persis seperti tetesan embun yang rapuh.
Namun, malam itu menjadi titik balik. Embun tidak membiarkan dirinya menangis hingga pagi. Ia bangkit, membasuh wajahnya dengan air dingin, dan mengambil sisa tepung serta oven kecil yang tidak ikut disita.
"Jika mereka pikir ini adalah akhir dariku," bisik Embun pada kegelapan malam, "mereka salah. Aku adalah embun. Aku mungkin jatuh malam ini, tapi aku akan selalu kembali setiap fajar menyingsing."