Lantai semen gudang tua itu terasa sedingin es yang merambat perlahan melalui kaus kaki tipis Embun, namun rasa dingin itu sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding rasa hampa yang perlahan membekukan dadanya.
Di atas meja kayu yang permukaannya sudah mulai lapuk dimakan usia, sebuah kertas putih tebal tergeletak dengan angkuh. Di sana, sebuah stempel tinta merah berbentuk persegi panjang tercetak tegas: DISITA. Kata itu seolah berteriak di dalam keheningan gudang, menertawakan seluruh keringat, air mata, dan jam tidur yang Embun korbankan selama tiga tahun terakhir.
Rumah tempat ia tumbuh, sekaligus toko kue kecil beraroma vanila yang selalu menjadi mimpinya, kini bukan lagi miliknya.
Embun menyandarkan punggungnya pada tumpukan karung terigu kosong di sudut ruangan. Ia memeluk lututnya sendiri, mencoba mencari kehangatan yang mustahil ada. Di sela-sela jarinya, masih ada sisa-sisa tepung kering yang memutih—bukti bahwa beberapa jam lalu, ia masih berdiri di depan oven, berharap keajaiban datang dan menyelamatkan usahanya. Namun, mukjizat tampaknya enggan mampir ke hidup Embun malam ini.
Bzzzt... Bzzzt...
Di sudut meja, dekat dengan kertas penyitaan, sebuah ponsel retak bergetar hebat. Pendar cahayanya menerangi ruangan yang temaram.