Tetes Embun

Elawati
Chapter #2

Janji Tidak Selesai

Fajar pecah di ufuk timur, membawa semburat warna jingga yang menembus ventilasi udara gudang tua. Namun bagi Embun, cahaya itu tidak membawa harapan. Sinar matahari pagi justru memperjelas kehancuran di sekelilingnya: debu yang beterbangan, karung-karung kosong yang tampak menyedihkan, dan kertas penyitaan berkas stempel merah yang masih setia bergeming di atas meja.

Embun terbangun dengan leher kaku dan seluruh badannya yang ngilu. Ia tidak benar-benar tidur. Sepanjang malam, matanya hanya terpejam, sementara otaknya terus memutar ulang kalimat di pesan teks Arka seperti kaset rusak.

Kita selesai.

Dengan gerakan lambat, Embun memungut ponselnya yang retak. Layarnya mati total, mungkin baterainya habis, atau mungkin ponsel itu memutuskan untuk menyerah—sama seperti semua hal dalam hidup Embun saat ini. Ia tersenyum getir. Bahkan sebuah benda mati tahu kapan harus berhenti berjuang.

Satu-satunya barang yang tersisa di dalam kantong celana Embun adalah sebuah dompet kulit usang. Ketika dibuka, isinya hanya selembar uang dua puluh ribu rupiah yang sudah lecek dan sebuah kartu identitas.

Tidak ada rumah untuk pulang. Tidak ada toko untuk mengadu.

"Nggak, Embun. Kamu nggak boleh mati di sini," bisiknya pada diri sendiri, suaranya parau dan asing di telinga sendiri.

Lihat selengkapnya