Deru mesin bus tua berkali-kali meredam suara riuh rendah para penumpang di dalamnya. Embun duduk di dekat jendela yang buram oleh debu jalanan, menyandarkan kepalanya yang masih terasa pening. Di luar, pemandangan gedung-gedung tinggi perlahan berubah menjadi deretan ruko pinggiran kota, hingga akhirnya berganti menjadi hamparan sawah dan perbukitan hijau.
Kota metropolitan yang telah merenggut paksa impiannya kini berada berkilo-kilometer di belakang.
Bus berhenti di Terminal Giringan—sebuah terminal antar-kota kecil di daerah pesisir yang tidak pernah Embun kunjungi sebelumnya. Ketika ia turun, udara yang menyergapnya terasa berbeda; lebih lembap dan membawa samar-samar aroma garam khas laut.
Uang dua puluh ribu rupiah miliknya kini telah resmi berpindah tangan ke kondektur bus, menyisakan beberapa keping koin ratusan perak di dasar dompetnya. Embun benar-benar berada di titik nol.
"Cari penginapan atau ojek, Neng?" tawar seorang pria paruh baya bertopi lusuh begitu melihat Embun berdiri kebingungan di area kedatangan.
Embun tersenyum tipis seraya menggeleng sopan. "Enggak, Pak. Terima kasih."
Ia mempererat pegangan pada tali ranselnya dan mulai berjalan keluar dari area terminal. Prioritas utamanya detik ini bukanlah tempat tidur yang nyaman, melainkan mengisi perutnya yang sudah melilit protes. Dengan beberapa keping koin yang tersisa, ia hanya mampu membeli sebotol air mineral dingin dan sebuah pisang goreng dari warung tenda di pojok jalan.
Sambil mengunyah pelan di bawah teduhnya pohon trembesi, mata Embun bergerak liar mengamati sekeliling. Daerah ini tidak sepadat kotanya yang dulu, namun memiliki denyut nadi kehidupan yang hangat. Banyak ruko-ruko kuliner lokal berjajar di sepanjang jalan utama menuju arah pantai.
Langkah kaki Embun kembali bergerak secara naluriah. Sebagai seorang yang menghabiskan separuh usianya di dapur, matanya selalu terprogram untuk mencari tempat-tempat yang mengepulkan asap masakan. hingga akhirnya, pandangannya tertuju pada sebuah plang kayu yang digantung miring di depan sebuah bangunan semi-permanen: **"Kedai Rasa Ibu - Lowongan Kerja".**
Di bawah tulisan lowongan itu, terdapat tulisan tangan tambahan menggunakan kapur tulis: *Dibutuhkan asisten dapur/tukang cuci piring segera.*
> "Nggak ada pekerjaan yang terlalu kecil untuk orang yang nggak punya apa-apa, Embun," bisiknya menguatkan diri.