Malam pertama di lantai dua Kedai Rasa Ibu tidak dilewati Embun dengan sisa-sisa tangisan, melainkan dengan peluh. Kamar bekas gudang itu sempit, pengap, dan dipenuhi tumpukan kardus kosong serta karung beras yang sudah bolong. Namun, ketika Embun selesai menyapu sisa debu dan menggelar tikar pandan tipis pemberian Bu Lastri, ia merasakan sesuatu yang sudah lama hilang dari dadanya: rasa aman.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, Embun bisa tertidur lelap tanpa bayang-bayang stempel penyitaan, meskipun ditemani suara bising jangkrik dan gerung kendaraan yang sesekali lewat di jalur pantura.
Seminggu berlalu dengan cepat. Ritme hidup Embun kini berubah total. Jika dulu harinya dimulai dengan mengecek suhu oven deck otomatis dan menimbang mentega impor kualitas premium, kini harinya diisi dengan bau bawang merah yang menusuk mata, uap panas dari dandang soto, dan gunungan piring kotor yang seolah tidak ada habisnya.
Namun, Embun tidak pernah mengeluh. Di mata Bu Lastri, Embun adalah pekerja paling cekatan yang pernah ia miliki. Tangannya bergerak cepat, kerjanya bersih, dan ia hampir tidak pernah duduk diam jika melihat ada sudut dapur yang kotor.
"Neng Embun, tulung potongin daun bawangnya, ya. Ibu mau ke pasar depan sebentar beli sisa pasokan jengkol," seru Bu Lastri suatu pagi, sembari merapikan dompet belanjanya.
"Siap, Bu. Biar saya yang jaga kompor sekalian," jawab Embun dari balik wastafel.
Begitu Bu Lastri pergi, suasana dapur menjadi hening. Hanya ada suara letup kecil dari minyak panas di wajan tempat menggoreng tahu. Embun berjalan mendekati talenan kayu besar. Ia mengambil pisau dapur milik Bu Lastri—pisau lokal yang agak berat dan harus sering diasah, sangat berbeda dengan pisau *chef* miliknya yang disita bank.
*Tak-tak-tak-tak-tak.*
Suara potongan daun bawang itu terdengar seirama, cepat, dan dengan ketebalan yang luar biasa presisi. Refleks seorang profesional tidak bisa bohong. Selesai dengan daun bawang, pandangan Embun tidak sengaja jatuh pada sisa adonan pisang goreng yang tergeletak di mangkuk plastik besar sebelah kompor.
Itu adalah adonan standar: tepung terigu, sedikit tepung beras, air, gula, dan garam. Bu Lastri biasanya hanya mencampur semuanya begitu saja sebelum memasukkan pisang kepok ke dalamnya.
Embun mendekat. Insting bakernya tiba-tiba meronta. Ia melihat tekstur adonan yang terlalu cair, yang jika digoreng akan membuat pisang goreng menjadi lembek dan berminyak setelah dingin.