Sinar matahari sore menerobos masuk melalui celah-celah ventilasi dapur Kedai Rasa Ibu, memantulkan siluet Embun yang masih berkutat dengan tumpukan mangkuk soto terakhir. Peluh membasahi pelipisnya, dan punggungnya terasa kaku seperti ditarik besi. Namun, ada kepuasan aneh yang menyelusup di dadanya saat melihat deretan peralatan dapur yang kini bersih mengilat dan tertata rapi di rak kayu.
"Bagus. Kerjamu cepat dan resik," sebuah suara mengejutkan Embun. Bu Lastri berdiri di ambang pintu dapur, melipat kedua tangannya di dada sambil mengangguk puas.
"Terima kasih, Bu. Kebetulan piringnya sudah selesai semua," jawab Embun sambil mengeringkan tangannya dengan kain lap bersih.
Bu Lastri berjalan mendekati meja racik, lalu menyodorkan sebuah mangkuk porselen besar berisi soto ayam yang mengepulkan uap panas, lengkap dengan sepirang nasi putih. "Makan dulu. Dari siang kamu cuma makan pisang goreng, kan? Perut kosong nggak akan bisa dipakai mikir."
Aroma gurih yang menguar seketika membuat air liur Embun menetes. Ia tidak menolak. Setelah mencuci tangan kembali, ia duduk di kursi kayu panjang di sudut dapur dan menyendok kuah soto tersebut.
Begitu cairan kuning keemasan itu menyentuh lidahnya, Embun tertegun. Sebagai seorang lulusan tata boga dan mantan pemilik *bakery*, indra pengecap Embun sangat sensitif. Ini bukan sekadar soto ayam biasa.
"Bagaimana? Kurang asin?" tanya Bu Lastri yang sedang membereskan sisa potongan daun seledri.
"Bukan, Bu. Ini... enak sekali," ujar Embun tulus. "Kuahnya ringan tapi kaldunya sangat pekat. Ibu pakai campuran kemiri sangrai dan sedikit jintan, ya? Dan sepertinya ada rasa manis gurih yang halus... apa Ibu pakai air kelapa untuk merebus ayamnya?"
Gerakan tangan Bu Lastri mendadak terhenti. Ia menatap Embun dengan mata membelalak, seolah baru saja melihat hantu. "Kamu... kok bisa tahu? Pengunjung biasa paling cuma bilang 'enak' atau 'sedap'. Nggak ada yang tahu kalau saya pakai air kelapa."