Tetes Embun

Elawati
Chapter #6

Sentuhan Pasar Baru


Ayam jantan bahkan belum sempat berkokok ketika alarm di ponsel butut Embun bergetar hebat pada pukul lima pagi. Kesadaran Embun terkumpul perlahan, disambut oleh rasa linu yang menjalar di sekujur punggungnya akibat tidur di atas tikar pandan yang tipis. Namun, tidak ada waktu untuk mengeluh. Ia segera membasuh wajahnya di kamar mandi bawah, mengikat rambutnya tinggi-tinggi, dan turun tepat saat Bu Lastri sedang mengunci pintu belakang kedai.

"Eh, sudah siap? Tepat waktu, bagus," puji Bu Lastri, penampilannya sudah rapi dengan jaket kain tebal untuk menghalau angin laut yang menusuk tulang. "Ayo, pasar subuh Giringan nggak akan menunggu kita."

Jarak dari kedai ke pasar tradisional tidak terlalu jauh, namun berjalan kaki di bawah langit subuh yang masih berwarna keunguan memberikan sensasi magis tersendiri bagi Embun. Bau amis ikan segar bercampur dengan aroma tanah basah dan wangi sayuran segar langsung menyergap begitu mereka memasuki area pasar.

Embun berjalan selangkah di belakang Bu Lastri, membawa dua keranjang anyaman besar. Matanya yang jeli mulai bergerak aktif, menganalisis situasi.

Ia memperhatikan bagaimana Bu Lastri memilih bahan baku. Wanita itu adalah tipe pelangan setia yang tidak suka menawar berlebihan, namun sayangnya, ia juga kurang selektif. Bu Lastri hampir saja memasukkan seikat daun seledri yang sudah agak layu ke dalam keranjang sebelum tangan Embun menahannya dengan lembut.

"Maaf, Bu, yang ini ujung batangnya sudah mulai membusuk. Nanti bau kaldunya bisa kurang segar," bisik Embun seraya memilah ikat yang lain. "Cari yang batangnya kokoh dan warnanya hijau pekat tanpa bercak kuning. Aromanya jauh lebih kuat."

Bu Lastri mengerjapkan mata, lalu mengendus seledri pilihan Embun. "Eh iya, bener. Kamu kok jeli banget, Neng?"

Tidak berhenti di situ, saat mereka berada di kios ayam, Embun dengan sopan meminta pedagang untuk memberikan potongan karkas ayam yang memiliki lebih banyak tulang muda dan ceker.

"Bu Lastri, kalau boleh saran, rebusan kaldu soto kita akan jauh lebih kental dan gurih alami kalau rasio tulang mudanya ditambah. Jadi kita bisa menghemat penggunaan penyedap rasa instan," jelas Embun hati-hati, takut menyinggung ego sang pemilik kedai.

Lihat selengkapnya