Tetes Embun

Elawati
Chapter #7

Harum Rindu Pulang


"Gethuk... dipanggang?"

Bu Lastri mengulang kata-kata Embun dengan dahi berkerut. Baginya, gethuk adalah jajanan pasar biasa yang dikukus, ditumbuk, lalu ditaburi kelapa parut. Membayangkan panganan tradisional itu dipanggang hingga berkaramel terdengar asing, bahkan sedikit nekat untuk lidah orang-orang terminal yang terbiasa dengan menu konvensional.

"Iya, Bu," jawab Embun mantap, senyumnya menyiratkan keyakinan seorang profesional. "Singkong di pasar Giringan tadi pagi melimpah dan harganya sangat murah. Kalau kita cuma menyajikan gethuk biasa, orang tidak akan tertarik datang ke kedai sore-sore. Tapi kalau kita panggang dengan sedikit olesan gula merah cair, aromanya akan menguar sampai ke peron terminal."

Bu Lastri terdiam, menimbang-nimbang risiko. Namun, mengingat keajaiban kuah soto buatan Embun siang tadi, keraguannya perlahan luntur. "Ya sudah. Besok subuh kita beli singkong yang paling bagus. Kita coba buat porsi kecil dulu."

Malam itu, Embun tidur dengan senyum yang tidak luntur. Kasur tikar pandannya tidak lagi terasa terlalu keras, dan angin laut yang menyelinap dari sela-sela dinding kayu tidak lagi terasa terlalu dingin. Jiwanya yang sempat mati rasa setelah dikhianati di kota besar, kini kembali berdenyut karena sebuah resep baru.

Keesokan harinya, dapur Kedai Rasa Ibu menjadi saksi bisu eksperimen mereka. Sembari menunggu kuah soto matang untuk persiapan makan siang, Embun mulai mengolah singkong. Ia mengukusnya hingga empuk dan merekah, membuang serat tengahnya, lalu menumbuknya selagi panas bersama sedikit garam dan vanila bubuk untuk memperkuat aroma.

Sesuai janjinya, saat matahari mulai condong ke barat sekitar pukul empat sore, Embun mulai beraksi. Ia membentuk gethuk menjadi kotak-kotak kecil seukuran dua jari. Di atas kompor, ia menyiapkan wajan datar antik milik Bu Lastri, mengolesinya dengan sedikit margarin.

*Sizzz...*

Lihat selengkapnya