Tetes Embun

Elawati
Chapter #8

Bayangan Masa Lalu


Pintu mobil sedan hitam itu terbuka secara perlahan, memutus keheningan yang mendadak mencekam di dalam Kedai Rasa Ibu. Sepasang sepatu pantofel kulit yang mengilat melangkah turun, memijak tanah becek pinggiran terminal dengan sangat hati-hati.

Embun terpaku. Seluruh otot di tubuhnya menegang, seolah ditarik paksa kembali ke malam jahanam di Jakarta beberapa bulan lalu. Malam ketika reputasinya dihancurkan, resep-resepnya dicuri, dan dirinya diusir seperti seonggok sampah oleh orang-orang yang paling ia percayai.

Dari balik kaca kedai yang buram, sesosok pria dengan setelan jas rapi tanpa dasi berjalan mendekat. Rambutnya tertata klimis, sangat kontras dengan lingkungan terminal yang kumuh.

"Embun? Ada apa, Neng? Kok mukanya pucat amat?" tanya Bu Lastri heran, menyadari perubahan drastis pada raut wajah asisten barunya.

Sebelum Embun sempat menjawab, suara gemerincing loncat pintu kedai berbunyi. Pria itu melangkah masuk, membawa aroma parfum maskulin mahal yang langsung membunuh wangi sisa karamel gethuk di ruangan itu.

"Jadi... di sini kamu bersembunyi, Chef Embun?"

Suara bariton yang familier itu terdengar begitu sinis di telinga Embun. Pria itu adalah Aris—mantan manajer operasional restoran bintang lima tempat Embun bekerja dulu, sekaligus orang kepercayaan pemilik restoran yang menjebak Embun dalam kasus plagiarisme resep.

Embun mengepalkan tangannya di bawah meja, berusaha menahan suaranya agar tidak bergetar. "Mau apa kamu ke sini, Aris? Bagaimana kamu bisa tahu aku ada di sini?"

Aris terkekeh pelan, menarik sebuah kursi plastik dengan ujung telunjuknya lalu duduk tanpa permisi. "Dunia kuliner itu sempit, Embun. Salah satu penyuplai bahan makanan kita kebetulan punya kerabat di pasar Giringan. Dia cerita tentang 'gadis kota' yang jeli memilih bahan dan bisa bikin kaldu soto luar biasa. Begitu saya dengar ciri-cirinya... saya langsung tahu itu kamu."

Bu Lastri yang bingung dengan situasi ini mulai berdiri, mencoba menengahi. "Maaf, Mas ini siapa, ya? Kalau mau makan, kedai kami sudah tutup."

Aris melirik Bu Lastri dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan, lalu kembali menatap Embun. "Saya tidak ada urusan dengan warung ini, Bu. Saya ke sini untuk menjemput aset kami yang hilang."

Lihat selengkapnya