Pagi berikutnya, Terminal Giringan disambut oleh langit kelabu yang menggantung rendah, namun di dalam Kedai Rasa Ibu, atmosfernya justru terasa sehangat tungku yang menyala.
Sesuai janjinya, Embun memulai hari lebih awal. Suara ulekan batu yang beradu dengan kemiri, bawang, dan kunyit menjadi musik pembuka hari. Di sebelahnya, Bu Lastri sibuk menumbuk singkong kukus yang masih mengepulkan uap panas untuk adonan gethuk panggang. Tidak ada lagi sisa ketegangan dari drama malam tadi; yang ada hanya ritme kerja dua wanita yang kini disatukan oleh tekad yang sama.
"Neng Embun," panggil Bu Lastri di sela tumbukannya, wajahnya tampak ragu. "Soal orang semalam... apa dia beneran nggak bakal macam-macam? Ibu kepikiran. Orang kota yang punya duit banyak biasanya kalau telanjur sakit hati, suka nekat."
Embun menghentikan ulekannya sejenak, menatap kuah soto yang mulai meletup-letup di dalam panci besar. Wangi serai, daun jeruk, dan gurihnya kaldu ayam kampung langsung menyeruak, menenangkan hatinya sendiri sebelum ia menenangkan Bu Lastri.
"Aris itu pengecut yang berlindung di balik jas mahalnya, Bu," sahut Embun tenang, meski ada sedikit riak kecemasan di dadanya. "Dia cuma berani kalau punya kuasa. Di terminal ini? Dia bukan siapa-siapa. Ibu jangan khawatir, kita fokus saja sama jualan kita hari ini."
Bu Lastri tersenyum lega, lalu melanjutkan pekerjaannya. Hari itu, gethuk panggang buatan mereka sengaja dibuat dua kali lipat lebih banyak. Embun menambahkan sedikit modifikasi pada saus karamelnya—menggunakan sejumput garam dapur kasar dan daun pandan wangi untuk menciptakan sensasi *salted caramel* lokal yang belum pernah ada di pasar Giringan.
Saat jarum jam menunjukkan pukul sebelas siang, Kedai Rasa Ibu mulai dibanjiri pengunjung. Para sopir angkot, kondektur, hingga pedagang asongan antre dengan tertib. Aroma soto bumbu kuning Embun yang pekat dan keunikan gethuk panggang modern mereka rupanya telah menyebar dari mulut ke mulut seperti api menyiram bensin.
"Wah, gila! Soto hari ini kok kuahnya lebih mantap ya, Neng? Gurihnya pas, nggak bikin enek!" seru Cak Mad, salah satu kondektur bus antarkota, sambil mengelap keringat di dahinya dengan handuk kecil.
"Rahasianya ada di teknik menumis bumbunya, Cak. Harus benar-benar matang sampai minyaknya keluar, baru dimasukkan ke kaldu," jawab Embun ramah sambil cekatan menuangkan kuah panas ke dalam mangkuk berisi soun dan tauge.
"Apalagi ini, gethuknya! Kemarin saya cuma kebagian satu, anak-istri di rumah pada rebutan. Hari ini saya bungkus lima ya, Bu Lastri!" timpal seorang sopir truk yang baru saja menyelesaikan makannya.
Bu Lastri tertawa renyah, hatinya membuncah. Omset mereka hari ini melonjak drastis. Embun melihat pemandangan itu dengan senyum kecil di sudut bibirnya. Di sini, kepuasannya instan dan nyata. Tidak ada kritikus makanan dengan wajah angkuh yang menilai makanannya menggunakan skala angka dingin. Di sini, piring yang tandas dan tawa lepas para pekerja kasar adalah penghargaan tertinggi yang pernah ia terima selama berkarier sebagai juru masak.
Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama.