Rencana untuk membesarkan Kedai Rasa Ibu tidak berjalan di atas kertas, melainkan di atas aspal panas dan kepulan asap dapur yang mengepul dua kali lebih pekat dari biasanya. Seminggu setelah insiden preman kiriman Aris, Embun tidak membuang waktu. Baginya, pertahanan terbaik adalah menyerang dengan pembuktian.
Langkah pertama yang diambil Embun adalah merombak manajemen sederhana warung mereka tanpa menghilangkan nyawa dari "Rasa Ibu" itu sendiri.
"Ibu, kita tidak bisa terus-menerus menolak pelanggan hanya karena meja kita penuh di jam makan siang," ujar Embun suatu sore, sembari menyeka keringat di dahinya setelah menutup kedai. Di atas meja kayu, ia menggelar selembar kertas pembungkus nasi yang bagian belakangnya ia gunakan untuk mencoret-coret bagan.
Bu Lastri, yang sedang memisahkan uang hasil jualan hari itu ke dalam beberapa karet gelang, menatap Embun dengan kening berkerut. "Tapi Neng, lahan kita cuma segini. Mau ditaruh di mana lagi mejanya? Apa kita sewa lahan sebelah yang bekas bengkel itu?"
Embun menggeleng sambil tersenyum tipis. "Bukan sewa lahan, Bu. Kita yang jemput bolanya. Kita tawarkan sistem *catering* box untuk kantor-kantor dinas, bank, dan pabrik tekstil yang ada di koridor jalan utama menuju kota. Di sana banyak karyawan yang bosan dengan makanan kantin, tapi malas keluar karena macet."
"Tapi siapa yang mau mengantar, Neng? Ibu sudah tua, nggak bisa naik motor," sahut Bu Lastri sangsi.
"Itu dia gunanya sekutu kita, Bu," jawab Embun cerdik.
Sore itu juga, Embun menemui Cak Mad di pangkalan bus. Ia menawarkan kerja sama yang saling menguntungkan: memanfaatkan jaringan para sopir angkot dan ojek pangkalan sekitar terminal yang sedang sepi penumpang di jam-jam tanggung untuk menjadi kurir pengantar "Nasi Box Rasa Ibu". Dengan sistem bagi hasil yang adil, Cak Mad dan kawan-kawannya langsung menyambut ide itu dengan mata berbinar. Terminal Giringan yang tadinya hanya tempat transit, kini perlahan berubah menjadi pusat operasi logistik kuliner mini mereka.
Modifikasi menu menjadi senjata rahasia Embun berikutnya. Soto bumbu kuningnya kini memiliki dua varian: *Soto Orisinil* untuk pelanggan setia terminal, dan *Soto Bakar*—di mana daging ayam kampung dan tetelan sapinya dibakar terlebih dahulu dengan olesan kecap manis dan ketumbar sebelum disiram kuah kaldu panas—khusus untuk menu box premium.