Efek dari viralnya video Rania terasa seperti ledakan bom yang manis sekaligus mengerikan bagi Kedai Rasa Ibu. Sejak pukul sepuluh pagi, antrean manusia sudah mengular hingga ke bahu jalan aspal Terminal Giringan. Mobil-mobil berpelat nomor luar kota tampak berderet parkir, bersisian dengan angkot-angkot yang kini sibuk membongkar muatan kotak katering.
"Neng Embun, kuah soto kloter kedua sudah mau habis! Ini pesanan nomor 45 sampai 60 belum siap!" seru Bu Lastri panik dari balik kepulan uap dapur. Wajahnya yang biasa tenang kini pias, dikepung oleh tumpukan mangkuk kosong dan pesanan yang terus mengalir tanpa jeda.
"Ibu tenang, tarik napas dulu," ujar Embun sambil tangan kanannya dengan cekatan mengoleskan bumbu ketumbar ke atas permukaan daging ayam yang sedang dibakar. Aromanya menyeruak, membuat lapar siapa saja yang mengantre. "Siti, bantu Bu Lastri angkat kaldu cadangan di panci belakang. Jangan sampai airnya susut terlalu banyak!"
Embun memimpin dapur layaknya seorang jenderal di medan perang. Pengalamannya sebagai *head chef* di Jakarta adalah jangkar yang menahan kedai kecil ini agar tidak tenggelam dalam pusaran popularitas yang mendadak. Namun, ia tahu betul, kekuatan fisik mereka ada batasnya.
Di tengah keriuhan itu, Cak Mad masuk dari pintu belakang dengan napas terengah-engah, membawa dua karung singkong baru. "Neng Embun, ini singkong dari petani desa sebelah. Stok yang di pasar Giringan sudah habis diborong warung lain karena tahu kita lagi butuh banyak."
Embun memeriksa sekilas singkong tersebut, memotong ujungnya, dan mengernyit tipis. *Kadar airnya terlalu tinggi, teksturnya akan terlalu lembek untuk gethuk soufflé.* Namun, ia tidak punya pilihan. "Terima kasih, Cak Mad. Tolong sekalian bantu anak-anak ojek di depan untuk mengatur parkiran. Jangan sampai menutup jalur bus, nanti kita ditegur petugas."
Saat matahari mencapai puncaknya, sebuah taksi berhenti agak jauh dari kedai. Dari dalam mobil, turun seorang pria berwajah tirus dengan setelan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku.