Tetes Embun

Elawati
Chapter #12

Akar Yang Menembus Aspal


Ancaman Aris bukan gertakan sambal.

Efeknya terasa tepat lima hari kemudian, pada hari Selasa subuh ketika pasar induk Giringan baru saja menggeliat. Embun, yang biasanya disambut ramah oleh para tengkulak langganannya, mendapati atmosfer yang berbeda total. Dingin dan penuh kepatuhan yang dipaksakan.

"Waduh, Neng Embun... beneran sepurane, maaf banget," ujar Cak mamat, juragan singkong terbesar di pasar, sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia menolak menatap mata Embun. "Stok singkong kualitas super yang biasa Neng ambil sudah diborong semua. Ada orang kota yang bayar tiga kali lipat tunai di muka untuk tiga bulan ke depan."

"Semuanya, Cak?" tanya Embun, mencoba menjaga suaranya tetap stabil meskipun jantungnya mulai berdegup kencang. "Tidak ada sisa satu kuintal saja untuk hari ini?"

Cak Mamat menggeleng pasrah. "Bukan cuma saya, Neng. Juragan ayam kampung sama distributor ketumbar premium juga sudah 'dikunci' sama orang itu. Saya tahu Neng orang baik, tapi kami juga butuh uang buat bayar setoran truk..."

Embun mengembuskan napas perlahan, menepuk bahu Cak Mamat pelan untuk menenangkannya. "Saya mengerti, Cak. Terima kasih kejujurannya."

Embun berjalan menyusuri koridor pasar yang becek dengan isi kepala yang berputar cepat. Aris menggunakan taktik klasik korporasi: memotong jalur pasokan (*supply chain*) untuk mencekik bisnis kecil yang sedang berkembang. Tanpa singkong kualitas premium yang rendah air, gethuk soufflé-nya akan gagal mengembang dan bertekstur benyek. Tanpa ayam kampung pilihan, kaldu soto bakarnya akan kehilangan kegurihan alaminya.

Ketika Embun kembali ke kedai dengan tangan hampa, Bu Lastri sudah menunggu dengan cemas di ambang pintu. "Bagaimana, Neng? Truk sayur juga bilang mereka nggak bisa kirim ke kita lagi hari ini."

Lihat selengkapnya