Tetes Embun

Elawati
Chapter #13

Bara Di Dalam Abu


Suara klakson angkot Cak Mad yang bernada nyaring seolah menjadi musik kemenangan yang mengiringi tutupnya Kedai Rasa Ibu malam itu. Pukul sembilan malam, semua menu ludes tak bersisa. Keuntungan hari ini bahkan melonjak tiga puluh persen karena gelombang simpati warga dan penumpang terminal yang penasaran dengan "Gethuk Gerilya" buatan Embun.

Namun, di dalam ruang tengah rumahnya yang merangkap kantor administrasi kedai, Embun tidak sedang merayakan kemenangan. Di atas meja kayu, selembar peta kecamatan Giringan terbentang, dipenuhi coretan spidol merah dan hijau.

"Neng Embun, ini wedang jahenya diminum dulu," Bu Lastri meletakkan cangkir lurik hangat, wajah paruh bayanya masih menyiratkan sisa ketegangan. "Ibu masih gemetar kalau ingat telepon dari utusan Pak Aris yang dilaporkan Cak Mad tadi. Orang sekaya dia... kok ya tega mau mematikan rezeki orang kecil."

Embun tersenyum tipis, menyesap wedang jahe yang menghangatkan tenggorokannya. "Bagi orang seperti Aris, Bu, ini bukan cuma soal bisnis atau uang. Ini soal harga diri. Dia terbiasa membeli apa saja yang dia mau. Ketika ada satu hal yang menolak dibeli—yaitu tanah kedai kita ini—dia merasa otoritasnya ditantang."

"Lalu, apa dia bakal diam setelah dipermalukan hari ini?"

"Justru itu, Bu," Embun menatap coretan merah di petanya. "Aris itu licik. Putusnya jalur pasokan pasar induk adalah pukulan pembuka. Sekarang dia tahu kita punya jalur gerilya lewat angkot Cak Mad. Dia tidak akan menyerang pasokan kita lagi dengan cara yang sama. Dia akan menyerang... legalitas kita."

Prediksi Embun terbukti tepat keesokan harinya, bukan dalam hitungan minggu, melainkan kurang dari dua puluh empat jam.

Rabu siang yang terik. Kedai sedang ramai-ramainya oleh pekerja kantoran dan buruh terminal ketika tiga orang pria berseragam safari necis turun dari mobil minibus hitam. Penampilan mereka kontras dengan debu terminal. Salah satu dari mereka membawa map jinjing tebal berlogo dinas resmi daerah.

"Selamat siang. Bisa bertemu dengan pemilik tempat ini? Saudari Embun?" tanya pria yang di dadanya tersemat tanda pengenal bertuliskan *Dinas Penataan Ruang dan Pemukiman*.

Embun keluar dari dapur, menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil. "Saya Embun. Ada yang bisa saya bantu, Pak?"

Pria itu tidak membalas senyuman Embun. Ia langsung membuka mapnya dan menyerahkan selembar surat berkop resmi dengan stempel merah yang masih basah.

"Kami datang untuk menyampaikan **Surat Peringatan Pertama (SP-1) terkait Pelanggaran Tata Ruang**. Berdasarkan laporan dan evaluasi terbaru, bangunan Kedai Rasa Ibu ini berdiri di atas lahan fasum (fasilitas umum) milik otoritas terminal dan tidak memiliki izin usaha yang selaras dengan masterplan modernisasi kawasan Giringan yang baru disahkan bulan lalu."

Lihat selengkapnya