Hari Jumat yang dinantikan tiba dengan atmosfer yang mencekam di langit Giringan. Sejak pukul tujuh pagi, udara terasa pekat oleh debu dan ketegangan. Kedai Rasa Ibu sengaja tidak menggelar kursi dan meja seperti biasanya. Pintu kayunya tertutup rapat, namun kepulan asap tipis tetap keluar dari ventilasi dapur—Embun dan Bu Lastri tetap memasak, seolah hari ini hanyalah hari Jumat biasa.
Pukul delapan tepat, suara deru mesin berat memecah keheningan terminal. Dua unit buldozer berwarna kuning pekat bergerak perlahan, dikawal oleh satu minibus hitam milik Aris dan dua mobil bak terbuka berisi puluhan pria berbadan tegap dengan seragam sekuriti swasta. Di belakang mereka, beberapa petugas dinas tata kota yang kemarin datang, berdiri dengan angkuh memegang dokumen pengosongan lahan.
Aris turun dari mobil sedan mewahnya. Kacamata hitam bertengger di hidungnya, dan seulas senyum sinis menghiasi wajahnya saat melihat kedai yang tampak sunyi.
"Ratakan tempat ini," perintah Aris dingin pada mandor lapangan. "Kalau ada yang menghalangi, seret saja. Kita punya surat tugas resmi."
Namun, baru saja mesin buldozer menderu lebih keras, suara klakson bersahut-sahutan laksana terompet perang menggema dari arah jalan masuk terminal.
*Tiiit! Tiiit! Telolet!*
Bukan hanya satu atau dua, melainkan tiga puluh armada angkot jalur Giringan—termasuk angkot tua Cak Mad—muncul dari berbagai tikungan. Dengan manuver yang terlatih, angkot-angkot itu langsung membentuk formasi barikade melingkar, mengunci posisi dua buldozer dan mobil-mobil utusan Aris di tengah-tengah terminal.
"Apa-apaan ini?!" bentak Aris, melangkah maju dengan geram. "Singkirkan mobil-mobil rongsokan ini! Kalian mau saya penjarakan karena menghalangi petugas?!"
Cak Mad turun dari angkot paling depan, meludah ke tanah, lalu bersedekap. "Silakan coba kalau berani, Pak Kota. Angkot kami mogok berjamaah hari ini. Mesinnya sensitif kalau melihat kesewenang-wenangan."
Sebelum Aris sempat memaki lebih jauh, pintu-pintu angkot itu terbuka serentak. Namun, yang turun dari sana bukanlah para preman terminal atau supir yang membawa pentungan.
Aris tertegun. Wajah para petugas dinas tata kota di belakangnya mendadak pias.