Pesan singkat di ponsel itu seperti setetes cuka di atas susu yang manis. Embun menatap layar gawainya selama beberapa detik sebelum menghapusnya secara permanen. Ia tidak ingin ketakutan merusak atmosfer perayaan di kedainya. Hari itu, Kedai Rasa Ibu berubah menjadi lautan rasa syukur; mangkuk-mangkuk Soto Bakar dioper dari tangan ke tangan, dan Gethuk Soufflé disajikan gratis sebagai penghormatan untuk para tetua adat dan supir angkot.
Namun, kedamaian itu hanya bertahan sampai esok malamnya.
Sabtu malam, pukul sepuluh. Terminal Giringan mulai lengang, menyisakan lampu-lampu jalan yang temaram. Embun sedang menghitung pemasukan hari itu di meja kasir sementara Bu Lastri membersihkan sisa panggangan di dapur belakang.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa masuk ke dalam kedai. Bau bensin menyengat langsung menusuk hidung Embun.
"Neng Embun! Gawat, Neng!" Jon, supir angkot yang terkenal paling cekatan, masuk dengan napas memburu. Wajahnya pucat pasi, dan ada noda hitam jelaga di kaus oblongnya. "Gudang singkong mentega kita... di lereng gunung... dibakar orang!"
Jantung Embun mencelos. "Apa, Bang? Kebakar atau dibakar?"
"Dibakar, Neng! Si Joko yang jaga di sana sempat lihat ada dua orang naik motor sport tanpa pelat nomor melempar bom molotov ke tumpukan karung siap kirim. Untung apinya cepat dipadamkan warga desa, tapi setengah dari stok singkong kualitas super kita untuk minggu depan hangus!"
Belum sempat Embun mencerna kabar buruk itu, ponsel di meja kasir berdering. Bukan nomor Aris, melainkan nomor tak dikenal dengan kode area lokal. Ketika Embun mengangkatnya, bukan suara makian yang terdengar, melainkan suara desisan rendah yang disamarkan melalui aplikasi pengubah suara.
> *"Kebakaran itu cuma pemanasan, Embun. Besok, bau gosongnya akan pindah ke kedaimu sendiri. Kamu punya waktu sampai matahari terbit untuk mengosongkan tempat itu, atau kami yang akan meratakannya menjadi abu bersama kalian di dalamnya."*
>
*Klik.* Panggilan terputus.
Bu Lastri yang mendengar percakapan itu dari balik tirai dapur langsung lemas. Air matanya menetes, membasahi celemek yang dipakainya. "Neng... Aris sudah gila. Dia mau membunuh kita. Kita laporkan ke polisi, Neng. Ini sudah kriminal!"