Tetes Embun

Elawati
Chapter #16

Skakmat Di Spsertiga Malam


Suara dering ponsel Embun di tengah kegelapan malam terasa seperti detak bom waktu. Semua orang di sekitar kedai terdiam. Hanya deru napas tertahan dari para supir angkot dan rintihan pelan dua pelaku teror yang terdengar di bawah sorot lampu terminal.

Embun menggeser layar ponselnya, menyalakan mode *loudspeaker*, lalu mendekatkan gawai itu ke mulutnya.

"Selamat malam, Ris. Atau harus kukatakan... selamat atas kegagalan barumu?" suara Embun mengalun tenang, namun dinginnya sanggup menusuk tulang.

Dari seberang telepon, terdengar suara napas yang memburu dan berat. Ada jeda panjang sebelum Aris akhirnya bersuara, kali ini tanpa nada congkak. Suaranya rendah, penuh tekanan, dan bergetar menahan amarah yang meledak di dada.

"Kamu mau apa, Embun? Uang? Sebut nominalnya. Aku bisa transfer sekarang juga, lima kali lipat dari harga tanah busuk itu. Hapus video itu dan lepas orang-orangku!"

Embun terkekeh pelan—sebuah tawa renyah yang terdengar sangat mengerikan di telinga Aris.

"Uang lagi? Kamu benar-benar tidak punya kosakata lain ya dalam hidupmu, Ris?" Embun berjalan mendekati salah satu botol molotov yang gagal meledak, lalu menggeser masker pelaku dengan ujung sepatunya. "Orang-orangmu ini baru saja mencoba membakar tempat tinggal seorang janda tua dan merenggut nyawa orang-orang di sini. Kamu pikir hukum di negara ini bisa kau suap dengan transferan instan?"

"Jangan sok suci, Embun!" bentak Aris, suaranya meninggi, mulai panik. "Kamu tahu siapa di belakangku?! Sekali aku telepon kapolres atau pejabat daerah, video rongsokanmu itu tidak akan ada artinya! Aku bisa memutarbalikkan fakta bahwa kamulah yang menjebak dan menganiaya karyawanku!"

Lihat selengkapnya