Asap knalpot angkot yang membawa dua pelaku teror itu menyatu dengan kabut tipis sisa fajar Giringan. Terminal yang semalam mencekam, kini berubah menjadi dapur umum darurat. Para supir angkot yang baru kembali dari kantor polisi tampak sumringah. Mereka tidak hanya mengantar pelaku, tetapi juga memastikan laporan polisi terkunci rapat di bawah kawalan ketat Sekar dan ratusan netizen yang terus memantau *live streaming* hingga subuh.
Di sudut Kedai Rasa Ibu, Embun duduk dengan secangkir kopi hitam yang mulai mendingin. Matanya yang kelelahan menatap lurus ke arah jalan raya, menunggu sebuah mobil yang ia tahu pasti akan datang.
"Neng Embun, sarapan dulu. Jangan dipikirkan terus, badai semalam sudah lewat," ujar Bu Lastri hangat sambil menyodorkan sepiring *gethuk soufflé* hangat. Aroma karamel pandannya yang manis dan gurih langsung menyergap indra penciuman, seolah menjadi penawar racun ketegangan semalam.
Embun tersenyum tipis. "Ini baru babak penyisihan, Bu. Aris itu seperti ular. Kalau kepalanya belum diketok, dia masih bisa mematuk."
Tepat saat Embun menyelesaikan kalimatnya, sebuah sedan hitam mewah berhenti di depan terminal. Kehadiran mobil itu langsung memicu kasak-kusuk dari para supir angkot. Pintu belakang terbuka, dan sesosok pria dengan setelan jas yang kusut melangkah keluar.
Itu Aris.
Tidak ada lagi tatapan congkak atau senyum meremehkan yang biasa ia pamerkan. Wajahnya pucat, kantung matanya menghitam, dan dasinya sudah dilonggarkan. Di belakangnya, seorang pria paruh baya berkacamata—yang diyakini sebagai pengacara pribadinya—mengekor sambil membawa koper kulit hitam.
### Langkah Mundur Sang Penguasa
Aris berjalan melewati deretan supir angkot yang menatapnya dengan pandangan menghina. Langkah kakinya berhenti tepat di depan meja Embun. Ia menatap piring gethuk di atas meja, lalu beralih ke mata Embun yang menatapnya tanpa riak.