Jika fajar di Giringan membawa aroma kemenangan, maka pagi di lantai 42 sebuah gedung pencakar langit di kawasan Sudirman, Jakarta, membawa hawa sedingin es.
Aris berdiri menghadap jendela kaca besar yang menampilkan lanskap Jakarta yang tertutup polusi. Di atas meja kerja berbahan kayu mahoni di belakangnya, tergeletak tiga surat kabar nasional hari itu. Pada halaman bisnis dan hukum, tajuk utamanya seragam: **"Dugaan Sabotase Lahan Giringan, Saham PT GMS Ambles 14%"** dan sebuah kolom permintaan maaf resmi berbingkai hitam yang ditandatangani oleh Aris sendiri.
*Brak!*
Pintu ruangan digebrak dari luar. Seorang pria tua berambut putih perak dengan tongkat berkepala naga masuk dengan langkah gemetar namun penuh amarah. Wirawan Giringan, pendiri sekaligus pemilik utama Giringan Group—ayah kandung Aris.
"Bodoh! Benar-benar bodoh!" suara Wirawan menggelegar, batuk kecil sempat menghentikan kalimatnya sebelum ia menunjuk wajah Aris dengan tongkatnya. "Bagaimana bisa proyek strategis bernilai ratusan miliar runtuh hanya karena sebuah kedai soto dan janda tua?!"
Aris membalikkan badan, wajahnya pias. "Ayah, ini bukan sekadar masalah kedai. Perempuan bernama Embun itu... dia memegang dokumen aliran dana kita ke dinas tata kota tahun 2024. Jika saya tidak menandatangani surat itu semalam, hari ini KPK sudah mengetuk pintu rumah kita."
Mendengar kata 'dokumen tata kota', amarah Wirawan mendadak surut, digantikan oleh kilat mata yang tajam dan kalkulatif. Ia perlahan duduk di sofa kulit, mencengkeram kepala tongkatnya erat-early.
"Embun..." gumam Wirawan, mengecap nama itu di lidahnya seperti racun. "Anak ingusan itu mengancamku? Dia pikir dia sudah menang hanya karena berhasil membuatmu menandatangani secarik kertas di atas meja warung?"
Wirawan terkekeh sinis. "Aris, dalam bisnis makro, sebuah tanda tangan di bawah tekanan bisa dibatalkan secara hukum. Kita biarkan mereka merayakan 'kemenangan rakyat' itu selama satu atau dua minggu. Setelah sorotan media sosial ini meredup dan netizen bosan, kita akan masuk lagi. Tapi kali ini, bukan lewat preman atau botol molotov."
Aris mengernyit. "Maksud Ayah?"