"Anak kandung dari mendiang Baskoro Hadi," bisik pria bermata elang itu ke dalam mikrofonnya.
Di lantai 42 gedung pencakar langit Sudirman, Aris mematung. Tawa lepasnya yang sempat meledak perlahan surut, digantikan oleh senyum seringai yang dingin. Baskoro Hadi—mantan Direktur Jenderal Tata Kota yang didepak secara tidak hormat tiga tahun lalu akibat skandal suap besar, yang kemudian ditemukan tewas serangan jantung di ruang tahanan sebelum sempat bernyanyi.
"Baskoro..." Wirawan Giringan, yang mendengar percakapan itu lewat *speakerphone*, mendadak menegakkan punggungnya. Sepasang matanya yang senja kini berkilat penuh kepuasan. "Pantas saja. Gadis itu tidak sedang menyelamatkan warung soto. Dia sedang melakukan balas dendam atas kematian ayahnya."
Wirawan mengetukkan tongkat naga miliknya ke lantai marmer dengan ritme yang lambat dan intimidatif. "Baskoro menyimpan salinan hitam aliran dana itu sebelum dia ditangkap, dan dia mewariskannya pada putrinya. Aris, hubungi pihak HAKI. Tahan semua pengajuan paten atas nama 'Kedai Rasa Ibu' atau 'Embun'."
"Lalu bagaimana dengan jalur distribusinya, Ayah?" tanya Aris, ambisinya yang sempat padam kini menyala kembali.
"Mulai besok, beli semua pasokan singkong mentega kualitas super dari para petani di sekitar Jawa Tengah. Tawarkan harga dua kali lipat. Buat Kedai Rasa Ibu kelaparan bahan baku," perintah Wirawan kejam. "Dan berikan informasi masa lalu Embun ke satu atau dua jurnalis senior yang berutang budi pada kita. Mari kita lihat, bagaimana reaksi netizen ketika mengetahui pahlawan kuliner mereka ternyata adalah putri dari koruptor terbesar di dekade ini."
### Cekikan yang Perlahan
Satu minggu berlalu di Terminal Giringan. Euforia kemenangan perlahan mulai terbentur oleh realitas yang aneh.
"Neng Embun, ini ada masalah," Jon masuk ke area dapur dengan wajah panik. Di belakangnya, dua orang petani singkong langganan Bu Lastri tertunduk lesu.
"Ada apa, Kang?" Embun mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
"Anu, Neng... kami tidak bisa menyuplai singkong mentega lagi untuk minggu ini," ujar salah satu petani dengan suara gemetar. "Ada pengepul besar dari Jakarta yang memborong semua hasil panen di desa kami, bahkan sampai tiga panen ke depan. Mereka bayar tunai, dua kali lipat. Kami... kami butuh uangnya untuk biaya sekolah anak, Neng. Maafkan kami."
Embun tertegun. Ia melirik Sekar yang baru saja menutup telepon dengan wajah yang sama tegangnya.
"Bukan cuma singkong, Embun," kata Sekar pelan, menahan amarah. "Distributor mangkuk tanah liat kita di Kasongan juga membatalkan pesanan secara sepihak. Mereka bilang ada masalah teknis, tapi aku tahu ini disengaja. Seseorang sedang memotong urat nadi pasokan kita."
Bu Lastri yang sedang mengaduk kuah soto menghentikan gerakannya. Wajah sepuhnya menyiratkan kecemasan yang mendalam. "Embun, apa orang-orang kota itu datang lagi? Jika kedai ini membawa bahaya untuk kita semua, Ibu ikhlas jika kita harus—"