Tetes Embun

Elawati
Chapter #20

Skakmat


Hening yang mencekam menyelimuti lantai 42 gedung pencakar langit di Sudirman. Ponsel di tangan Aris perlahan turun, layarnya yang menggelap merefleksikan wajahnya yang kini seputih kertas. Kata-kata Embun barusan bukan sekadar gertakan seorang gadis terminal; itu adalah kalkulasi dingin dari seorang profesional yang tahu persis di mana letak urat nadi musuhnya.

"Aris! Kenapa diam saja?!" Wirawan Giringan menghantamkan tongkat naganya ke lantai, tidak sabar. "Apa yang dikatakan anak haram Baskoro itu? Dia memohon ampun, bukan?"

Aris menelan ludah dengan susah payah. Suaranya tercekat di tenggorokan. "Ayah... dia... dia tidak memohon."

"Lalu?!"

"Dia yang membocorkan identitasnya sendiri ke media," bisik Aris, suaranya bergetar hebat. "Dia memancing kita untuk mengangkat kembali kasus Baskoro Hadi. Dan... dia baru saja mengirimkan seluruh salinan rekening koran luar negeri kita ke KPK. Akun yang di Cayman Islands dan Swiss, Ayah."

Mendengar nama kedua suaka pajak itu disebut, wajah angkuh Wirawan mendadak runtuh. Kilat kalkulatif di matanya berganti menjadi kepanikan yang murni. Tubuh rentanya limbung, memaksa sang taipan untuk ambruk kembali ke atas sofa kulitnya.

"Tidak mungkin..." gumam Wirawan, napasnya mulai memburu. "Bagaimana bisa dia menembus enkripsi akun itu? Itu akun rahasia yang bahkan dinas pajak pun tidak tahu!"

"Dia mantan analis keuangan top firma sekuritas asing, Ayah. Menelusuri *paper trail* (jejak audit) dan cangkang perusahaan adalah makan malamnya sehari-hari," Aris meremas rambutnya sendiri, frustrasi. "Kita salah menilai lawan. Dia bukan bertahan, dia sedang menjebak kita agar keluar dari persembunyian."

Belum sempat Wirawan membalas, pintu ruangan itu kembali terbuka. Bukan digebrak seperti saat Wirawan datang, melainkan dibuka dengan ketukan ritmis yang tegas.

Tiga orang pria berjas gelap dengan ID card yang sangat dikenal di dunia hukum Indonesia melangkah masuk. Di belakang mereka, beberapa petugas kepolisian berjaga di koridor.

"Selamat malam, Pak Wirawan Giringan dan Saudara Aris Giringan," ujar pria di depan, menunjukkan sebuah surat resmi berlogo garuda. "Kami dari Komisi Pemberantasan Korupsi. Berdasarkan bukti permulaan yang cukup dan dokumen aliran dana asing yang kami terima malam ini, kami meminta Anda berdua untuk ikut ke kantor kami guna pemeriksaan lebih lanjut terkait kasus TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang) penataan ruang wilayah."

Lihat selengkapnya