Tetes Embun

Elawati
Chapter #21

Tamu Masa Lalu


Satu bulan setelah kejatuhan Giringan Group, Terminal Giringan telah bertransformasi total. Berkat gerakan "Soto Solidaritas", kedai-kedai kecil di sekitarnya ikut bersolek. Tidak ada lagi suasana gersang; area parkir kini tertata rapi, dan aroma kuah soto bakar serta *gethuk soufflé* yang khas telah menjadi ikon baru yang dinantikan para pelancong lintas kota.

Sore itu, Embun sedang memeriksa berkas persiapan keberangkatan tim Kedai Rasa Ibu ke Istana Negara minggu depan. Di tengah kesibukannya, lonceng di pintu kedai berdenting.

Seorang pria dengan kemeja flanel modis dan kacamata hitam melangkah masuk. Postur tubuhnya tegap, wajahnya bersih khas pria metropolitan, namun ada gestur canggung yang kentara saat ia mengedarkan pandangan ke sekeliling warung.

Saat pria itu melepas kacamata hitamnya, gerakan tangan Embun yang sedang membalik halaman dokumen mendadak terkunci. Pena di jemarinya terjatuh, menggelinding di atas meja kayu.

"Embun... atau harus kupanggil Anastasia?" suara itu terdengar lembut, namun di telinga Embun, suara itu bagai gaung dari mimpi buruk yang paling ingin ia lupakan.

Pria itu adalah Arka. Mantan tunangan Embun di Jakarta. Pria yang tiga tahun lalu, di saat Embun berada di titik terendah setelah kematian ayahnya, tega menguras seluruh sisa modal usaha toko kue modern miliknya, lalu menghilang tanpa jejak seperti ditelan bumi.

"Mau apa kamu ke sini?" suara Embun mendadak beralih menjadi sedingin es. Tidak ada ledakan amarah, hanya ada nada datar yang sarat akan kekecewaan mendalam.

### Topeng yang Retak

Arka melangkah mendekat, mencoba memasang senyum terbaiknya—senyuman manipulatif yang dulu selalu berhasil melunahkan hati Embun.

"Aku melihatmu di berita nasional, Embun. Keberanianmu menjatuhkan Giringan Group... luar biasa. Aku tahu kamu wanita yang hebat," Arka mencoba meraih tangan Embun di atas meja, namun Embun dengan cepat menarik tangannya menjauh.

Arka berdeham, menutupi rasa malunya. "Aku tahu kamu membenciku. Aku tahu perbuatanku tiga tahun lalu tidak dimaafkan. Tapi tolong dengarkan penjelasanku dulu. Waktu itu aku panik. Ayahmu tersandung kasus, firma tempatmu bekerja kolaps, dan kolektor mendatangi rumahku karena utang bisnis keluargaku. Aku... aku terpaksa mengambil uang toko kuemu untuk menyelamatkan ibuku."

"Terpaksa?" Sekar yang baru keluar dari ruang belakang langsung memotong dengan sengit. Ia sudah tahu seluruh cerita masa lalu Embun. "Terpaksa sampai mengganti nomor telepon, memblokir semua akses, dan membiarkan Embun kelaparan di kontrakan sempit selama berbulan-bulan? Hebat sekali alasanmu, Mas!"

Wajah Arka memerah. Ia sadar posisinya tidak menguntungkan, namun ambisinya jauh lebih besar daripada rasa malunya.

Lihat selengkapnya