Enam bulan sejak malam syukuran itu, Terminal Giringan tidak lagi sekadar menjadi tempat transit bagi bus-bus antarkota. Tempat itu telah bertransformasi. Aroma asap knalpot dan debu jalanan yang dulu mendominasi, kini kalah telak oleh harum gurih bumbu soto bakar yang membumi dan manisnya kepulan uap singkong yang dilembutkan.
Berkat proposal dari Kementerian, Terminal Giringan resmi bersolek menjadi **Taman Kuliner Giringan**. Tanpa menggusur satu pun pedagang lama, area terminal ditata ulang dengan arsitektur terbuka yang modern namun tetap mempertahankan struktur aslinya. Jon kini tidak lagi berteriak-teriak mengejar penumpang; ia mengenakan seragam rapi sebagai Kepala Koordinator Logistik Terminal yang mengelola alur wisatawan. Cak Mad pun tersenyum lebar di balik rombong es dawetnya yang kini selalu antre pasca-pelatihan higienitas yang difasilitasi oleh tim Embun.
"Neng Embun," panggil Bu Lastri dari meja dapur utama yang kini lebih luas dan dilapisi *stainless steel* standar profesional. "Ini perwakilan dari asosiasi travel Jawa Tengah sudah datang. Mereka mau memasukkan Kedai Rasa Ibu ke dalam paket wajib wisata kuliner."
Embun menoleh dari laptopnya, tersenyum cerah. "Baik, Bu. Minta Sekar yang menemui mereka dulu ya. Sekalian bawa sampel *Gethuk Soufflé* rasa pandan yang baru kita uji coba kemarin."
Bu Lastri mengangguk bangga. Wanita tua itu kini tidak lagi gemetar menghadapi orang-orang penting. Kepercayaan diri yang ditiupkan Embun di Istana Negara telah mengubahnya menjadi maestro dapur sejati yang disegani.
### Tamu dari Masa Lalu
Sore itu, hujan rintik-rintik membasahi Giringan, menciptakan suasana syahdu di bawah lampu-lampu gantung kekuningan yang menghiasi taman kuliner. Di sudut kedai yang agak tenang, Embun sedang memeriksa laporan keuangan bulanan ketika seorang pramusaji mengantarkan sebuah kartu nama.
Di atas kertas pelat putih itu tertulis sebuah nama yang membuat jemari Embun sempat berhenti bergerak: **Hendrawan Gunadi – Direktur Utama Gunadi Group**.
Itu adalah mantan bos besar Embun—atau Anastasia—saat ia masih menjadi analis data korporat terkemuka di Jakarta. Pria paruh baya yang dulu memecatnya karena fitnah keji dari kubu Arka.
Embun menarik napas dalam, lalu berdiri menyambut pria yang kini berjalan ke arah mejanya dengan senyum canggung.