Satu tahun berlalu sejak penolakan investasi lima miliar itu, dan ucapan Embun terbukti bukan sekadar bualan retoris. Jakarta—bahkan dunia—benar-benar datang ke Giringan.
Taman Kuliner Giringan kini menjadi studi kasus nasional tentang modernisasi daerah tanpa penggusuran. Bus-bus yang masuk bukan lagi sekadar bus ekonomi yang berdebu, melainkan bus pariwisata eksekutif yang membawa wisatawan domestik hingga mancanegara. Mereka penasaran dengan "Keajaiban Giringan", sebuah tempat di mana jajaran menu tradisional disajikan dengan standar pelayanan bintang lima.
Pagi itu, suasana riuh rendah menyelimuti dapur utama. Bu Lastri sedang memberikan arahan kepada lima orang juru masak muda—semuanya adalah anak-anak dari para sopir dan kenek terminal yang disekolahkan oleh yayasan bentukan Embun.
"Ingat pesan Neng Embun," suara Bu Lastri lantang namun keibuan, "kunci dari *Soto Bakar Giringan* itu ada pada ketulusan saat membakar bumbunya. Jangan terburu-buru. Kita memasak untuk memuliakan tamu."
Sementara itu, di area luar, Jon tampak sibuk dengan *handy-talkie* di tangannya. Menggunakan kemeja batik khas petugas Giringan, ia mengatur alur masuk tiga bus besar yang membawa rombongan jurnalis asing.
"Mas Jon, jalur tiga steril! Rombongan dari Jepang sudah diturunkan," lapor salah satu anggotanya lewat radio.
"Bagus. Arahkan langsung ke pendopo utama. Cak Mad, siap-siap! Dawetnya jangan sampai telat keluar," balas Jon cekatan. Mantan preman terminal itu kini memiliki wibawa seorang manajer operasional yang disegani.
### Diplomasi Mangkuk Tanah Liat
Sore harinya, terminal kedatangan kedatangan tamu yang tidak biasa. Seorang pria paruh baya berkemeja putih rapi turun dari mobil dinas berplat hitam. Beliau adalah Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang baru, didampingi oleh beberapa staf ahli.