Persiapan menuju *World Culinary Summit* di Bali mengubah ritme hidup di Terminal Giringan. Tempat itu tidak lagi hanya berdenyut pada ritme kedatangan dan keberangkatan bus, melainkan telah bertransformasi menjadi sebuah pusat pelatihan intensif.
Di bawah arahan Embun, area belakang terminal disulap menjadi replika dapur simulasi berskala internasional. Di sinilah letak ujian sesungguhnya. Membawa cita rasa lokal ke panggung dunia bukan sekadar soal memindahkan resep, melainkan tentang konsistensi, ketepatan waktu, dan diplomasi rasa.
"Suhu bara arang untuk pembakaran bumbu soto tidak boleh lebih atau kurang dari lima derajat dari standar kita, Jon," ujar Embun sambil memantau termometer digital yang terpasang di dekat panggangan tradisional.
Jon, yang dahulunya hanya tahu cara berteriak mengatur trayek bus, kini mencatat setiap detail logistik arang batok kelapa dengan rapi di gawai tabletnya. "Siap, Neng. Pasokan dari pengrajin lokal di desa sebelah sudah kita sortir. Hanya arang dengan kekeringan total yang kita bawa ke Bali. Saya jamin tidak ada asap pekat yang mengganggu para kepala negara nanti."
Sementara itu, Bu Lastri tampak sibuk melatih para pemuda lokal dalam teknik memotong bahan makanan dengan presisi tinggi. Tidak ada lagi potongan sayur yang asimetris. Di bawah bimbingannya, setiap helai daun bawang dan irisan bawang merah memiliki ukuran yang seragam, tanpa kehilangan sentuhan rasa rumahan yang menjadi nyawa Kedai Rasa Ibu.
### Kerikil di Jalan Menuju Bali
Dua minggu sebelum keberangkatan, sebuah surat resmi dengan kop lembaga kurasi kuliner internasional tiba di meja Embun. Sekar membawanya dengan wajah panik.
"Mbak, ini gila. Tim kurator dari Jakarta meminta kita mengganti mangkuk tanah liat buatan perajin Giringan dengan piring porselen impor untuk presentasi di depan para delegasi," kata Sekar, suaranya bergetar menahan amarah. "Kata mereka, tanah liat lokal kurang higienis dan terlihat 'terlalu kampung' untuk standar gala dinner."
Embun membaca surat itu dengan saksama. Alih-alih marah, ia justru menarik napas dalam-dalam dan tersenyum tipis. Ini adalah jenis arogansi yang sudah sangat sering ia hadapi saat masih berada di dunia korporasi dulu—sebuah pemikiran yang menilai segala sesuatu hanya dari kemasan luar yang berkilau.