Tetes Embun

Elawati
Chapter #27

Jangkar Baru


Euforia penghargaan *World Culinary Summit* perlahan mereda, namun Terminal Giringan tidak pernah kembali menjadi tempat yang sama. Plakat kayu jati berpahat emas dari Bali kini terpasang rapi di dinding tengah Kedai Rasa Ibu, bersanding dengan foto besar seluruh warga terminal yang tersenyum lebar di malam pelepasan dulu.

Efek dari Bali terasa instan. Terminal Giringan kini bukan lagi sekadar tempat transit bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi), melainkan destinasi wisata kuliner yang ramai dikunjungi pelancong dari berbagai kota setiap akhir pekan.

"Neng Embun, ini daftar pesanan bahan baku untuk minggu depan. Permintaan soto kita naik tiga kali lipat," ujar Jon, menyodorkan gawai tabletnya yang kini dipenuhi grafik inventaris yang rapi. Jon tidak lagi memakai kaus oblong pudar; ia kini bangga mengenakan kemeja rapi dengan logo bordir kecil "Rasa Ibu Giringan" di dadanya.

Embun memeriksa angka-angka itu, lalu menatap Jon dengan serius. "Pasokan arang dari desa sebelah bagaimana, Jon? Dan yang paling penting, bagaimana dengan kualitas mangkuk tanah liat kita?"

"Aman, Neng. Sejak kita pulang dari Bali, perajin gerabah di desa sebelah sampai harus menambah pekerja. Mereka senang sekali karena pesanan kita mengalir terus. Tapi..." Jon menggantung kalimatnya, tampak ragu.

"Tapi kenapa, Jon?"

"Ada beberapa perwakilan dari jaringan restoran waralaba besar dari Jakarta datang ke terminal kemarin sore saat Neng sedang di dinas kota. Mereka mencari Neng," jawab Jon pelan. "Mereka membawa proposal kerja sama. Katanya, mereka ingin membeli lisensi merek 'Soto Bakar Giringan' untuk dibuka di sepuluh mal besar di Jakarta."

Embun terdiam sejenak. Ia meletakkan cangkir tehnya, memandangi kesibukan di luar jendela kedai. Di sana, beberapa sopir truk sedang tertawa bersama pedagang asongan sambil menikmati kopi hangat. Sebuah pemandangan yang menjadi alasan utamanya bertahan di tempat ini.

### Tamu dari Masa Lalu

Sore harinya, desas-desus itu menjadi kenyataan. Sebuah mobil sedan hitam mewah yang tampak asing di antara deretan bus ekonomi terparkir di area VIP terminal. Dari dalam mobil, turun seorang pria paruh baya berpenampilan klimis dengan setelan jas abu-abu mahal.

Embun mengenali wajah itu. Pria itu adalah mantan direktur regional di perusahaan korporasi tempat Embun bekerja dulu sebelum ia memilih "pensiun dini" ke Giringan.

"Lama tidak jumpa, Embun. Kamu benar-benar membuat kejutan besar sampai ke ibu kota," sapa pria itu, namanya Handoko, sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling kedai dengan tatapan menilai.

Lihat selengkapnya