Tetes Embun

Elawati
Chapter #28

Babak Baru Dibalik Bara


Keputusan Embun malam itu menyebar secepat aroma soto bakar yang tertiup angin malam. Di sela-sela deru mesin bus malam yang datang dan pergi, para pedagang asongan, kondektur, hingga kuli panggul terminal saling berbisik dengan binar mata yang berbeda. Rasa tidak aman yang sempat menghantui mereka—ketakutan bahwa "Rasa Ibu" akan pergi meninggalkan terminal kumuh ini—luruh sepenuhnya. Mereka kini tahu, sang nahkoda memilih untuk tetap memegang kemudi di dermaga yang sama.

Keesokan paginya, suasana Kedai Rasa Ibu terasa lebih hidup dari biasanya. Kang Dadang, perajin gerabah dari desa sebelah, datang membawa satu pikulan penuh mangkuk tanah liat baru tanpa diminta. Wajahnya yang legam tampak berseri-seri.

"Neng Embun," panggil Kang Dadang sambil menurunkan pikulannya dengan hati-hati. "Saya dengar dari Jon soal tamu Jakarta kemarin. Saya sengaja membuat cetakan mangkuk baru ini. Tanah liatnya saya saring tiga kali, lebih tebal, dan bagian bawahnya sengaja saya buat lebih cekung supaya panas arangnya bertahan lebih lama. Ini... tanda terima kasih dari kami, warga desa."

Embun tersenyum menyambutnya, menyentuh permukaan mangkuk yang masih terasa hangat seolah membawa energi tanah Giringan. "Ini luar biasa, Kang. Justru saya yang berterima kasih. Tanpa mangkuk ini, soto kita hanya akan jadi sup biasa."

### Sebuah Perlawanan Kreatif

Namun, penolakan terhadap konsorsium raksasa milik Handoko bukan berarti Embun bisa bersenang-senang di atas angin. Dua minggu setelah kunjungan itu, Jon datang membawa kabar yang kurang mengenakkan. Sambil menunjukkan layar tabletnya, Jon mengerutkan kening.

"Neng, lihat ini. Di media sosial lagi ramai. Konsorsium Pak Handoko baru saja meluncurkan *brand* baru bernama 'Soto Tungku Ibu' di Jakarta. Mereka pakai konsep yang mirip sekali dengan kita—mangkuk tanah liat, klaim resep tradisional—tapi mereka buka serentak di lima mal besar dengan promosi besar-besaran."

Embun memperhatikan foto-foto yang beredar. Estetika restorannya mewah, dengan lampu sorot yang mengarah pada mangkuk-mangkuk yang tampak seragam. Di sana tertulis: *Sensasi Tradisional dengan Higienitas Modern Inframerah.*

Lihat selengkapnya