Tetes Embun

Elawati
Chapter #29

Bara Menggigit Back


Tiga bulan setelah festival "Pasar Rasa Giringan", ketenangan Terminal Giringan mendadak koyak. Handoko mungkin pulang ke Jakarta dengan rasa kagum, tetapi konsorsium raksasa di belakangnya tidak mengenal kata "sentimental". Bisnis adalah perang. Dan bagi mereka, penolakan Embun adalah tamparan yang harus dibalas dengan eliminasi pasar.

Hantaman pertama datang secara sistematis melalui regulasi.

Pagi itu, sebuah surat dinas berlogo Pemprov mendarat di meja Embun. Isinya dingin dan mematikan: *Rencana sterilisasi kawasan terminal dari aktivitas kuliner non-transportasi demi proyek modernisasi hub transportasi publik.* Kedai Rasa Ibu diberi waktu 30 hari untuk mengosongkan tempat.

Di saat yang sama, pasokan utama mereka dicekik. Jon masuk ke kedai dengan wajah pias, gawai di tangannya gemetar.

"Neng... ini gila. Vendor arang batok kelapa dari desa sebelah mendadak memutus kontrak kita. Konsorsium Jakarta membeli seluruh hak eksklusif produksi arang mereka dengan harga tiga kali lipat. Bukan untuk dipakai, Neng, tapi ditimbun! Mereka sengaja memutus pasokan bahan bakar kita."

Bu Lastri yang sedang menata mangkuk seketika lemas, mangkuk tanah liat di tangannya jatuh dan pecah berkeping-keping di lantai semen. Bunyi pecahan itu terdengar seperti lonceng kematian bagi Kedai Rasa Ibu.

"Mereka mau membunuh kita perlahan, Neng," bisik Jon, giginya berwidu menahan amarah. "Tanpa arang itu, soto kita tidak akan punya aroma asap yang khas. Dan tanpa lapak ini... kita habis."

### Strategi Bumi Hangus

Embun tidak menangis. Ia berdiri, menatap pecahan mangkuk di lantai, lalu menatap Jon dan Bu Lastri. Di dalam matanya, ada kilat dingin yang belum pernah mereka lihat sebelumnya—tatapan seorang mantan analis korporasi papan atas yang insting bertahannya terusik.

"Mereka pikir kita ini mangkuk tanah liat yang gampang pecah," ucap Embun, suaranya pelan namun tajam memotong kepanikan di dalam ruangan. "Jon, kumpulkan seluruh anak-anak terminal malam ini. Jangan ada yang bolos. Dan Bu Lastri, bersihkan pecahan itu. Kita belum kalah."

Malam itu, di bawah temaram lampu selasar terminal, Embun membeberkan strateginya. Jika konsorsium Jakarta menggunakan uang untuk mencekik mereka, maka Embun akan menggunakan kelincahan akar rumput untuk membakar balik.

Lihat selengkapnya