Kemenangan atas konsorsium Jakarta memang manis, tetapi seperti rempah-rempah dalam kuah soto, ia meninggalkan rasa getir yang tertinggal di lidah. Tiga bulan setelah kunjungan menteri, cetak biru yang dijanjikan akhirnya mewujud. Terminal Giringan mulai bersolek. Alat-alat berat meruntuhkan dinding-dinding kusam, menggantinya dengan struktur baja dan kaca minimalis.
Di tengah hiruk-pikuk debu proyek, Kedai Rasa Ibu berdiri tegak di zona sentral yang baru: sebuah paviliun semi-terbuka berdesain industrial-tradisional yang dirancang khusus oleh arsitek pemenang sayembara Pemprov.
Namun, modernitas membawa harganya sendiri.
"Neng Embun, ini tidak bisa dibiarkan," keluh Jon suatu pagi, sambil meletakkan tumpukan map akrilik di atas meja kasir yang kini sudah menggunakan sistem *Point of Sale* (POS) digital. "Manajemen pengelola terminal yang baru menerapkan aturan *smokeless zone* di area utama. Mereka minta kita mengganti tungku arang dengan kompor induksi listrik. Katanya, asap kita mengotori langit-langit kaca yang baru dipasang."
Bu Lastri yang sedang memotong daun seledri langsung menghentikan pisaunya. "Kompor listrik? Gusti Allah... soto bakar kok tidak pakai bara? Itu namanya soto rebus biasa, Jon! Hilang semua aroma khas kita."
Embun, yang kini penampilannya lebih rapi dengan apron denim custom berlogo Giringan, menarik napas dalam-dalam. Tatapannya beralih ke luar jendela besar kedai, menatap cerobong asap tempat pembuatan arang mandiri milik anak-anak terminal di area belakang.
"Mereka tidak bisa melarang kita membakar," kata Embun tenang, meski otaknya langsung bekerja memetakan matriks masalah. "Tapi mereka punya regulasi tertulis tentang amdal dan estetika bangunan. Kita tidak bisa menggunakan cara lama untuk melawan aturan baru. Kita harus naik kelas."
### Rekayasa Rasa
Malam itu, dapur Rasa Ibu berubah menjadi laboratorium. Embun tidak memanggil masa terminal, melainkan mengundang seorang kawan lamanya saat di Jakarta—seorang ahli teknik lingkungan yang memahami sistem filtrasi udara.
Bersama Jon, mereka mendesain sebuah sistem tudung isap (*exhaust hood*) kustom yang dimodifikasi. Prinsipnya sederhana namun cerdas: asap dari pembakaran batok kelapa ditarik ke dalam pipa bawah tanah, dialirkan melalui filter karbon aktif dan *water scrubber* untuk menghilangkan partikel jelaga, sebelum dibuang ke udara luar dalam bentuk uap bersih yang tak berbau.