Tawaran di dalam map hitam itu beraroma seperti kuah soto yang terlalu banyak diberi penyedap buatan: menggiurkan di lidah, namun meninggalkan rasa getir yang mencurigakan di tenggorokan.
Embun tidak langsung menyentuh map tersebut. Ia menarik sebuah kursi kayu, mempersilakan mantan bosnya, Baskoro, untuk duduk. Aroma parfum mahal pria itu tampak asing, bertabrakan dengan wangi sisa pembakaran batok kelapa yang masih menggantung di udara kedai.
"Sepuluh terminal utama, Pak?" Embun membuka suara, nadanya datar tanpa riak euforia yang biasa diharapkan Baskoro dari seorang pelaku UMKM daerah.
"Benar. Dari Kualanamu sampai Purabaya," Baskoro mencondongkan tubuh, matanya berkilat penuh ambisi korporat. "Konsorsium butuh *anchor tenant* yang punya narasi kuat. Rasa Ibu punya itu. Kalian punya cerita pahlawan lokal, teknologi ramah lingkungan, dan produk kaleng yang terbukti lolos uji klinis. Kami sediakan modal miliaran rupiah, kamu tinggal duplikasi sistem ini."
"Duplikasi," Embun mengulang kata itu dengan senyum tipis yang sarat ironi. "Pak Baskoro lupa kenapa saya keluar dari Jakarta? Di dunia kalian, duplikasi berarti mekanisasi. Kalian ingin Rasa Ibu ada di sepuluh tempat berbeda dengan rasa yang sama, kecepatan yang sama, dan keuntungan yang bisa diprediksi di atas kertas Excel."
"Tapi kami tidak akan mengubah konsep lokalmu, Embun! Itu ada di klausul perjanjian," potong Baskoro defensif.
"Konsep bisa dijaga di atas kertas, Pak. Tapi jiwa tidak bisa dikloning," Embun berdiri, berjalan ke arah tungku yang mulai meredup. Ia mengambil sepotong arang batok kelapa yang masih hangat dengan capitan besi. "Soto ini hidup karena interaksi. Karena Jon tahu kapan harus membesarkan bara, karena Bu Lastri kenal wajah para komuter yang sedang patah hati, dan karena anak-anak terminal yang mengumpulkan batok kelapa ini punya tempat untuk menggantungkan hidup. Begitu kita membuka sepuluh cabang sekaligus di bawah bendera konsorsium, kita bukan lagi menjaga warisan. Kita menjadi monster efisiensi baru—persis seperti gerai ayam goreng di seberang sana."
Baskoro menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya dengan sisa-sisa arogansi kota besar. "Kamu masih idealis yang keras kepala, ya. Tapi ingat, Embun, jika kamu menolak, konsorsium akan mencari mitra lain. Mereka bisa membuat replika Rasa Ibu dengan modal yang jauh lebih besar. Mereka bisa membeli teknologi filtermu, atau bahkan membajak pemasok dagingmu. Pikirkan matang-matang. Ini bisnis, bukan aksi sosial."