Tetes Embun

Elawati
Chapter #33

Uji Lidah Di Atas Meja Kaca


Kabut tipis dari Selat Madura belum sepenuhnya luruh ketika Embun melangkah memasuki Terminal Purabaya, Surabaya—cabang pertama dari proyek raksasa ini. Kontras dengan atmosfer Terminal Giringan yang akrab dengan aroma tanah dan kayu bakar, Purabaya adalah monster beton yang bising oleh deru bus antarkota dan pengumuman keberangkatan yang menggema lewat pelantang suara.

Di sudut zona komersial yang ber-AC, gerai baru "Rasa Ibu" berdiri kokoh. Desainnya modern, namun tetap mempertahankan aksen kayu lokal dan tungku batu yang dimodifikasi agar aman untuk ruang tertutup.

"Neng Embun," panggil Jon, suaranya berbisik penuh kecemasan. Pria itu tampak kikuk mengenakan apron bersih tanpa noda jelaga yang biasa menghiasinya di Giringan. "Peternak lokal yang direkrut konsorsium di sini... daging sapinya beda. Seratnya lebih tebal. Saya sudah coba rebus dengan durasi yang sama seperti di rumah, tapi kuahnya tidak bisa 'mengikat' bumbu."

Embun mendekati meja konter. Di sana sudah berdiri Cak Nunung, kepala juru masak lokal Purabaya yang merupakan lulusan pertama *Akademi Rasa Ibu* angkatan Surabaya. Wajah pria paruh baya itu tampak tegang, keringat dingin membasahi pelipisnya.

Di seberang meja, tiga orang perwakilan konsorsium berstelan rapi—utusan langsung dari Jakarta—sudah duduk manis memegang pulpen dan lembar penilaian digital. Di tengah mereka, duduk Baskoro yang tersenyum penuh kemenangan politis. Hari ini adalah *soft opening*, hari di mana teori "Kuda Troya" milik Embun akan diuji langsung oleh realitas lapangan.

### Benturan Dua Sisi

"Kita punya masalah dengan efisiensi waktu, Mbak Embun," ujar salah satu utusan konsorsium bernama Dani, sambil mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja kaca. "Cak Nunung bersikeras waktu perebusan harus ditambah dua jam karena karakter daging lokal Jawa Timur ini. Sesuai target SOP yang kita sepakati di Excel, satu porsi soto harus siap dalam waktu tiga menit sejak dipesan. Kalau kita tambah waktu produksi di belakang, biaya operasional membengkak."

Embun tidak langsung menjawab. Ia mengambil sendok, mencicipi kuah dari panci besar yang sedang diaduk Jon dan Cak Nunung.

Baskoro benar. Napas korporasi adalah keseragaman. Namun, alam tidak pernah menciptakan dua hal yang benar-benar sama. Sapi yang memakan rumput di pesisir Jawa Timur memiliki tekstur daging yang berbeda dengan sapi di pedalaman Jawa Tengah. Jika dipaksa menggunakan standar waktu Giringan, soto ini akan gagal.

"Cak Nunung," Embun menatap juru masak lokal itu dengan lembut. "Menurut lidah sampeyan, apa yang kurang?"

Lihat selengkapnya