Jika Jawa Timur adalah tentang menjinakkan serat daging yang tangguh, maka Sumatra Utara adalah pertarungan memperebutkan kedaulatan lidah.
Satu bulan setelah gerai Purabaya sukses membalikkan prediksi skeptis para analis saham, Embun mendapati dirinya berdiri di tengah riuh rendah Terminal Kualanamu, Deli Serdang. Bandara sekaligus terminal hub terintegrasi ini adalah peradaban yang berbeda lagi. Di sini, "Rasa Ibu" tidak hanya berhadapan dengan efisiensi waktu, melainkan dengan kultur kuliner lokal yang punya standar rasa setinggi langit. Orang Medan tidak bisa ditipu oleh makanan yang tanggung.
"Mbak Embun, ini gawat. Kita bisa diamuk massa kalau begini terus," ucap Ucok, pemuda tegap perwakilan koperasi pekerja Kualanamu, saat menemui Embun di dapur persiapan.
Di atas meja stainless steel, tiga mangkuk soto hasil uji coba pertama teronggok dingin. Di sebelah Ucok, Bang Togar—kepala juru masak lokal lulusan Giringan angkatan kedua—wajahnya kusut masai bagai kain pel.
"Kenapa, Bang?" tanya Embun tenang, seraya meraih sendok bersih.
"Lidah orang sini menolak, Neng," Jon yang ikut mendampingi ekspansi Sumatra menimpali. Wajahnya lesu. "Mereka bilang soto kita 'kurang jantan'. Terlalu manis untuk ukuran Sumatra. Tapi kalau kita naikkan intensitas bumbunya, bumbu dasar Giringan kita yang dikirim dalam bentuk pasta beku oleh konsorsium jadi tidak seimbang."
Embun mencicipi kuah tersebut. Benar. Karakteristik air di tiap wilayah berbeda, dan di Kualanamu, entah mengapa, rasa manis dari kecap dan bawang merah Giringan dominan secara janggal, menenggelamkan aroma asap batok kelapa yang menjadi pilar utama Rasa Ibu.
### Perangkap Pasta Beku
Pukul dua siang, sebuah jip hitam mewah berhenti di depan gerai. Dani, utusan konsorsium Jakarta yang kini membawahi divisi logistik regional barat, turun dengan langkah tergesa-gesa. Di belakangnya, dua orang staf membawa koper pendingin.
"Embun, saya dengar ada kendala rasa?" Dani langsung menembak tanpa basa-basi begitu memasuki area kantor belakang. "Saya sudah duga desentralisasi rantai pasok ini akan bikin repot. Makanya, dewan direksi mengambil inisiatif cepat. Ini."
Dani membuka koper pendingin tersebut. Di dalamnya terdapat puluhan kantong plastik kedap udara berisi pasta bumbu berwarna cokelat gelap yang seragam.
"Ini bumbu pasta hasil ekstraksi laboratorium pusat di Cikarang," ujar Dani bangga, menepuk kantong plastik itu. "Kami mereplikasi rasa asli Giringan sampai ke tingkat molekuler. Kita tidak perlu pusing dengan perbedaan air atau pasokan lokal lagi. Mulai besok, seluruh cabang Sumatra wajib pakai bumbu instan terpusat ini. Praktis, efisien, dan rasanya *pasti* sama."
Bang Togar langsung mendengus sinis, sementara Ucok melipat tangan di dada dengan tatapan tidak bersahabat.