Tetes Embun

Elawati
Chapter #35

Sengat Di Jantung Kekuasaan


Awan hitam di langit Kualanamu seolah ikut terbang mengiringi Boeing 737 yang membawa Embun kembali ke Jakarta. Di ketinggian 35.000 kaki, saat seluruh penumpang terlelap dalam dengkur halus, Embun justru terjaga. Lembar demi lembar berkas legalitas dari Baskoro yang dikirim lewat surat elektronik ditatapnya tanpa berkedip.

"Ormas Satria Nusantara," gumam Embun lirih, membaca nama organisasi yang diselundupkan konsorsium ke dalam struktur saham.

Di atas kertas, mereka adalah organisasi pemberdayaan pemuda lokal. Namun di lapangan, semua orang tahu siapa mereka: mesin pengeruk uang berkedok seragam loreng yang menguasai hajat hidup urat nadi transportasi Jakarta. Kampung Rambutan dan Pulogebang adalah wilayah kekuasaan mutlak mereka. Jika Rasa Ibu ingin masuk ke sana tanpa 'upeti' saham 20 persen, maka gerai mereka tidak akan hanya kekurangan izin—bisa jadi mereka akan menghadapi "kebakaran misterius" di minggu pertama.

"Mereka tidak cuma mau uang, Neng," Jon yang duduk di kursi sebelah menyodorkan secangkir kopi hitam instan maskapai. "Mereka mau memotong kaki kita. Esensi Rasa Ibu itu ada di koperasi pekerja. Kalau 20 persen itu dikasih ke elite ormas, para pencuci piring dan kondektur di terminal Jakarta cuma jadi penonton lagi. Kita kembali jadi kapitalis tulen."

Embun meneguk kopinya. Pahit dan hambar—kontras dengan kehangatan andaliman Kualanamu yang masih membekas di benaknya.

"Kita tidak akan memberikan satu persen pun hak pekerja, Jon," ucap Embun, matanya berkilat dingin. "Kalau mereka mau main politik terminal, kita ajari mereka cara bertarung dengan gaya terminal."

### Terminal Kampung Rambutan: Logika Jalanan

Dua hari setelah mendarat, Embun tidak langsung menemui dewan direksi di SCBD. Ia justru melangkah membelah debu dan asap knalpot Terminal Kampung Rambutan. Mengenakan jeans pudar dan kemeja flanel, ia membaur di antara hiruk-pikuk calo, pedagang asongan, dan supir bus antarkota.

Di sebuah warung kopi pojok terminal, Baskoro sudah menunggu dengan wajah sekuyu mayat. Di sampingnya, duduk seorang pria bertubuh gempal dengan jaket kulit hitam dan cincin akik sebesar ibu jari di kedua tangannya. Bang Panji, ketua wilayah Ormas Satria Nusantara.

"Nah, ini dia Sang Srikandi Kuliner kita," ujar Panji dengan tawa berderai yang dipaksakan. "Silakan duduk, Mbak Embun. Kami sudah dengar kehebatan Mbak menjinakkan Surabaya dan Medan. Hebat. Tapi, Jakarta ini beda bos. Di sini, tanahnya keras. Kalau tidak ada pasak yang kuat, bangunan bisa roboh tertiup angin."

Embun duduk dengan tenang, memesan teh tawar hangat. "Pasak yang kuat itu bernama keadilan, Bang Panji. Bukan intimidasi."

Senyum Panji langsung lenyap. Suasana warung kopi mendadak sunyi, bahkan abang penjual kopi pun pura-pura sibuk mencuci gelas.

"Jangan idealis, Mbak. Di Kampung Rambutan ini, hukumnya cuma satu: koordinasi," Panji mengetuk meja dengan jarinya yang dihiasi akik. "Konsorsium Jakarta sudah setuju. Jatah saham koperasi 20 persen itu dialihkan ke yayasan kami. Sebagai gantinya, saya jamin keamanan Rasa Ibu dari premanisme, perizinan lancar dalam tiga hari, dan pasokan daging dari jagal binaan kami akan masuk dengan harga miring."

"Pasokan daging dari jagal Abang?" Embun menaikkan alisnya.

"Iya. Kenapa? Daging kami legal, kok."

Embun tersenyum tipis, jenis senyuman yang membuat Baskoro di sebelahnya mulai berkeringat dingin. Embun tahu persis, jagal binaan ormas adalah jaringan daging selundupan berkualitas rendah yang teksturnya liat dan baunya menyengat. Mereka ingin memaksa Rasa Ibu memakai bahan sampah, lalu memeras keuntungan dari saham pekerja.

Lihat selengkapnya