Tetes Embun

Elawati
Chapter #36

Akar Mencengkram Bumi


Lantai kayu rumah panggung di Giringan selalu mengeluarkan derit yang sama setiap kali Embun menginjaknya. Bunyi yang akrab, aman, dan membumi. Di luar, aroma tanah basah sehabis hujan berpadu dengan wangi pekat pembakaran batok kelapa dari dapur utama.

Setelah berbulan-bulan menghirup avtur bandara dan polusi Jakarta, Embun akhirnya bisa bernapas lega.

Namun, ketenangan di Giringan tidak pernah bertahan lama. Di meja kayu panjang tempat mereka biasa meracik bumbu, selembar surat kabar nasional tergelar. Foto wajah Embun bersanding dengan grafik saham yang menukik tajam milik Konsorsium Jakarta. Beritanya bombastis: *“Pecah Kongsi Rasa Ibu: Embun Kuasai Sumatra dan Jawa Timur, Konsorsium Jakarta Terancam Gulung Tikar.”*

"Neng," Jon masuk membawa nampan berisi wedang jahe hangat. Wajahnya tidak sesegar biasanya. "Direksi Jakarta tidak akan diam saja setelah Neng mengaktifkan klausul 51 persen itu. Kemarin, tiga orang dari dinas kesehatan dan badan karantina tiba-tiba datang ke gudang pusat kita di Surabaya."

Embun menyesap wedang jahenya perlahan. Sensasi hangat menjalar di tenggorokannya. "Mereka cari apa, Jon?"

"Mereka memeriksa pasokan andaliman dari Toba dan terasi dari Madura. Katanya ada laporan warga soal higienitas. Jelas ini pesanan dari Jakarta untuk menjegal rantai pasok kita," Jon mendengus gusar. "Untungnya dokumen kita lengkap. Tapi kalau terus-terusan digembosi seperti ini, mitra koperasi kita bisa panik."

Embun meletakkan cangkirnya. Bunyi ketukan keramik dengan kayu terdengar tegas. "Biarkan mereka menyerang dari atas, Jon. Sementara mereka sibuk dengan birokrasi, kita akan perkuat akar kita di bawah."

### Tamu dari Masa Lalu

Sore harinya, sebuah sedan hitam memasuki pelataran parkir Rasa Ibu Giringan. Bukan mobil mewah khas Jakarta, melainkan mobil dinas berpelat merah.

Seorang pria paruh baya berkemeja batik keluar dari pintu belakang. Guratan lelah di wajahnya tidak bisa menyembunyikan wibawa yang besar. Embun tertegun sejenak, lalu bergegas turun dari teras untuk menyambutnya.

"Pak Baskoro?"

Mantan direktur konsorsium yang dulu selalu tampil klimis dengan setelan jas mahal itu kini tersenyum kecut. Rambutnya tampak lebih memutih.

"Saya sudah dipecat dari dewan direksi dua hari lalu, Embun," ujar Baskoro tanpa basa-basi saat mereka duduk di pendopo samping. "Saya dianggap gagal mengontrolmu dan membiarkan 51 persen aset regional lepas dari tangan mereka."

"Saya minta maaf jika keputusan saya merugikan posisi Anda, Pak," ucap Embun tulus. Bagaimanapun, Baskoro adalah orang yang pertama kali melihat potensi Rasa Ibu untuk dibawa ke skala nasional.

Baskoro menggeleng. "Tidak, Embun. Kamu benar. Saya yang harusnya berterima kasih. Kamu menyelamatkan muka saya dari kehancuran yang lebih besar. Orang-orang di konsorsium itu... mereka sudah gila. Setelah kamu pergi, mereka memutuskan untuk meluncurkan 'Rasa Ibu Express'."

Lihat selengkapnya