Lantai kayu panggung Giringan kembali berderit. Namun kali ini, deritnya terdengar seperti sebuah simfoni kemenangan yang tenang. Malam setelah kabar menyerahnya Konsorsium Jakarta menyebar, Giringan tidak menggelar pesta pora yang megah. Hanya ada tikar-tikar anyaman yang digelar di pendopo, dikelilingi oleh kepulan asap dari tungku-tungku yang membakar batok kelapa, menciptakan atmosfer yang selalu dirindukan Embun.
Di atas meja kayu panjang, dokumen pengalihan 49 persen sisa saham itu tergeletak. Baskoro meletakkan pena emasnya, lalu menatap Embun dengan pandangan penuh rasa hormat.
"Semua sudah selesai, Embun. Tanda tangan di atas materai ini akan mengembalikan Rasa Ibu seutuhnya ke rahim tempat ia dilahirkan. Kamu resmi memegang kendali penuh," ujar Baskoro.
Embun tidak langsung meraih pena tersebut. Matanya menatap nama-nama yang tertera di lampiran dokumen: bukan nama dirinya sendiri, melainkan draf pembagian kepemilikan atas nama **Koperasi Akar Rasa Ibu**.
"Saya tidak akan memegang kendali ini sendirian, Pak Baskoro," kata Embun mantap. "Mulai besok, saham ini akan dipecat-pecat menjadi milik para petani andaliman di Toba, peternak sapi di Madura, dan seluruh kru dapur yang tangannya melepuh demi menjaga kuah kita tetap hangat. Konsorsium kalah karena mereka berpikir Rasa Ibu adalah milik jajaran direksi. Kita menang karena Rasa Ibu adalah milik semua orang yang berkeringat untuknya."
Jon yang berdiri di sudut ruangan menyeka sudut matanya yang basah, sementara Bang Togar langsung menepuk pundak Ucok dengan tawa menggelegar yang memecah keheningan malam.
### Babak Baru: Daulat Pangan
Satu tahun berlalu sejak runtuhnya "Rasa Ibu Express". Gerai-gerai di *rest area* yang dulu dingin dan kaku kini telah bersalin rupa. Embun tidak menutup tempat-tempat tersebut, melainkan merombaknya total. Konsep laboratorium dan makanan beku disingkirkan jauh-jauh. Sebagai gantinya, gerai-gerai itu kini menjadi etalase hidup dari hasil bumi Nusantara.