Tetes Embun

Elawati
Chapter #38

Tantangan Selanjutnya

Undangan dari Istana Negara bukan hanya sebuah kehormatan, melainkan sebuah ujian guncangan budaya (*culture shock*) yang nyata bagi anak-anak Giringan.

Tiga minggu sebelum acara, kompleks Dapur Utama Giringan berubah menjadi barak pelatihan yang super ketat. Protokoler istana dan tim dokter kepresidenan datang untuk memeriksa segala hal, mulai dari kadar higienitas air, kalibrasi suhu kuali, hingga latar belakang keluarga para kru dapur.

"Neng, ini orang-orang Jakarta bikin pusing," keluh Bang Togar suatu sore, sambil membanting apronnya ke meja kayu. "Masa mereka minta andaliman kita diuji laboratorium dulu di Jakarta? Katanya takut ada kandungan mikroba berbahaya. Mereka tidak tahu apa, andaliman itu pengawet alami? Nenek moyang kita sudah makan itu ratusan tahun dan tidak ada yang mati!"

Embun yang sedang menyortir kemiri hanya tersenyum tenang. "Ikuti saja prosedurnya, Bang. Mereka punya standar keamanan negara. Tugas kita bukan mendebat protokol mereka, tapi memastikan rasa soto kita tidak berubah walau harus dimasak di bawah pengawasan paspampres."

Namun, tantangan terbesar sebenarnya datang dari tim koki kepresidenan sendiri. Mereka menyarankan agar soto disajikan dalam bentuk *deconstructed*—tren kuliner modern di mana kuah, daging, dan gel rempah disajikan terpisah dengan estetika minimalis agar "ramah" bagi lidah para kepala negara asing.

Embun menolak keras.

"Kalau dagingnya dipotong kotak sempurna pakai mesin, kuahnya disaring sampai bening seperti air teh, dan nasi dibentuk silinder, itu bukan Rasa Ibu lagi," tegas Embun dalam rapat virtual bersama panitia pusat. "Rasa Ibu adalah kehangatan yang jujur. Kuah kita harus pekat karena kaldu tulang yang direbus semalaman, dan dagingnya harus dipotong manual agar seratnya bisa mengikat bumbu. Jika Anda ingin hidangan Prancis yang cantik, silakan sewa koki bintang lima. Tapi jika Anda mengundang Rasa Ibu, Anda mengundang jiwa Nusantara."

Ketegasan Embun tak terbantahkan. Pihak istana akhirnya mengalah.

### Malam di Istana Negara

Lihat selengkapnya