Euforia dari Istana Negara masih menyisakan piala penghargaan yang kini dipajang di pendopo Giringan. Namun, bagi Embun, ketenangan sejati adalah saat ia bisa kembali memilah biji kemiri di atas tampah bambu, mendengarkan derit akrab lantai kayu rumah panggungnya.
Di bawah, Jon sedang memeriksa manifes pengiriman andaliman dari Toba bersama Baskoro. Semuanya tampak sempurna. Koperasi Akar Rasa Ibu telah bertransformasi menjadi gurita ekonomi kerakyatan yang sehat, mandiri, dan bersih dari utang.
Sampai sebuah panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal memecah ketenangan sore itu.
Embun mengangkat gawai miliknya. "Halo, dengan Rasa Ibu Giringan."
"Embun," sebuah suara wanita di ujung telepon terdengar parau, namun memiliki nada dingin yang sangat familiar. Suara yang sudah tiga tahun ini coba Embun lupakan dari memorinya.
"Ratih?" jantung Embun berdesir. Ratih adalah mantan sahabatnya, CEO muda jenius yang dulu membawa blueprint dapur kue Embun ke Konsorsium Jakarta sebelum akhirnya mendepak Embun secara sepihak.
"Aku tidak punya banyak waktu," bisik Ratih, terdengar napasnya yang memburu, seperti orang yang sedang bersembunyi. "Selamat atas kemenanganmu di Istana. Tapi kamu harus tahu... Konsorsium Jakarta tidak pernah kalah, Embun. Mereka sengaja mengalah."
Embun mengernyitkan dahi, tangan kanannya mengepal kuat pada tepian meja. "Apa maksudmu? Mereka sudah menjual 49 persen sisa sahamnya pada koperasi kami. Kami memegang kendali 100 persen. Secara hukum—"
"Secara hukum, kamu memang memegang merek 'Rasa Ibu'," potong Ratih cepat. "Tapi apa kamu pernah memeriksa dokumen asul-usul tanah tempat Dapur Pusat Giringan berdiri? Atau tanah perkebunan andaliman mitra koperasimu di Toba? Atau tanah peternakan sapi di Madura?"
Darah Embun mendadak terasa surut ke kaki. "Ratih, bicara yang jelas."
"Konsorsium Jakarta dikendalikan oleh para konglomerat properti dan sawit, Embun. Mereka tahu mereka kalah di lidah masyarakat. Jadi, selama setahun ini, selagi kamu sibuk membangun Dapur Singgah dan berkampanye di jalur tol, mereka menggunakan anak perusahaan fiktif untuk diam-diam membeli seluruh hak guna bangunan (HGB) dan tanah adat di sekitar hilir rantai pasokmu. Termasuk tanah Giringan ini."
Suara Ratih bergetar. "Mereka sengaja melepas 49 persen saham itu dengan harga murah agar kamu merasa menang dan menurunkan kewaspadaan. Besok pagi, surat eksekusi pengosongan lahan akan turun dari pengadilan. Mereka tidak mau meniru rasa sottomu lagi, Embun. Mereka mau menggusur tanahnya agar kedaulatan pangan yang kamu banggakan itu mati kelaparan tanpa bahan baku. Maafkan aku... aku baru tahu setelah mereka mendepakku juga."
*Klik.* Telepon ditutup sepihak.
### Tamu di Hari Esok
Matahari baru saja terbit di Giringan ketika deru mesin-mesin berat memecah kabut pagi. Bukan sedan hitam berpelat merah, melainkan tiga buah mobil jip mewah beserta dua truk bermuatan penuh pria tegap berseragam sekuriti swasta.
Jon dan Bang Togar langsung berlari ke halaman, menghadang mereka di depan pagar bambu. Embun turun dari rumah panggung dengan langkah tenang, walau batinnya bergemuruh.
Dari dalam jip paling depan, turun seorang pria paruh baya bertubuh tambun yang mengenakan kemeja safari necis. Di tangannya ada sebuah map tebal berlogo garuda.