Aroma kuah soto yang kaya akan rempah kembali mengepul dari Dapur Pusat Giringan, berbaur dengan udara pagi yang bersih pasca-badai hukum yang menggulung Konsorsium Jakarta. Berita runtuhnya raksasa properti itu menjadi tajuk utama di berbagai media nasional. Namun, di pendopo Giringan, hiruk-pikuk itu berganti menjadi diskusi yang jauh lebih membumi.
Baskoro duduk di hadapan Embun, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu. Di sampingnya, sebuah laptop menampilkan grafik pergerakan pasar pasokan bahan baku.
"Konsorsium memang sudah lumpuh, Embun," buka Baskoro, suaranya berat dan penuh kalkulasi. "Tetapi ekosistem bisnis tidak pernah membiarkan ruang kosong terlalu lama. Aset-aset sitaan mereka, termasuk beberapa lini logistik yang sempat mereka bangun di sekitar Toba dan Madura, sekarang dilelang oleh negara."
Embun menghentikan aktivitasnya memilah kemiri. Ia menatap Baskoro dengan dahi berkerut. "Maksudmu, kita harus mengambil alih aset itu?"
"Bukan sekadar mengambil alih," sela Jon yang tiba-tiba muncul dari balik pintu dengan membawa nampan berisi wedang jahe. "Ini kesempatan kita untuk memotong kompas. Selama ini kita menyewa armada luar untuk mengirim andaliman dan daging sapi. Kalau koperasi kita yang memenangkan lelang aset logistik Konsorsium, dari hulu sampai hilir, kontrol sepenuhnya ada di tangan para petani dan peternak."
Embun terdiam, menimbang risiko. Koperasi Akar Rasa Ibu baru saja bernapas lega. Mengambil langkah ekspansi sebesar ini membutuhkan modal sosial dan finansial yang tidak sedikit. Namun, sebelum ia sempat menjawab, sebuah mobil taksi berhenti di depan gerbang bambu.
Seorang wanita turun dari kursi belakang. Langkah kakinya ragu-ragu, pakaiannya sederhana—jauh dari kesan glamor seorang eksekutif Jakarta yang dulu melekat padanya.
Itu Ratih.
### Rekonsiliasi di Atas Tampah
Suasana pendopo mendadak kaku. Bang Togar yang sedang membelah kayu di dekat pagar langsung berdiri tegak, memegangi kapaknya dengan pandangan penuh selidik. Jon menahan napas, sementara Baskoro hanya mengangkat alisnya tipis.
Ratih berjalan mendekat, matanya sembap namun ada rasa lega yang terpancar saat melihat Embun baik-baik saja.