Kemenangan Koperasi Akar Rasa Ibu di pengadilan agraria dan peluncuran Pusat Logistik Daulat bukan akhir dari cerita. Bagi Embun, kesuksesan justru membawa tanggung jawab baru yang jauh lebih berat. Giringan kini bukan lagi sekadar desa terpencil di peta; tempat ini telah menjelma menjadi kiblat baru bagi para pegiat ekonomi kerakyatan dari seluruh penjuru negeri.
Sore itu, halaman rumah panggung Embun dipenuhi oleh belasan pemuda dan pemudi dari berbagai daerah. Ada yang datang membawa sekantong biji kopi dari pegunungan gayo, ada yang membawa botol-botol minyak kelapa murni dari pelosok fajar timur, hingga garam krosok hasil saringan petambak tradisional pesisir selatan.
Mereka adalah angkatan pertama dari **"Sekolah Akar Rasa"**—sebuah inisiatif non-formal yang didirikan Embun bersama Ratih untuk melatih para penggerak pangan lokal agar bisa mandiri di tanah mereka sendiri.
"Mbak Embun," ujar seorang pemuda asal Flores sambil menunjukkan catatan di gawainya. "Kami punya komoditas mete yang melimpah, tapi tengkulak di sana selalu mendikte harga. Bagaimana cara kami membangun benteng hukum seperti yang Giringan lakukan?"
Embun tersenyum, meletakkan tampah bambunya, lalu berjalan mendekati papan tulis kapur yang terpasang di bawah kolong rumah panggung.
"Jangan lawan mereka dengan modal, karena kita pasti kalah," jawab Embun tenang. "Lawan mereka dengan legalitas komunal. Bentuk kelompok tani, ubah menjadi koperasi, lalu daftarkan tanah kalian sebagai Hak Kekayaan Intelektual Komunal atas produk geografis tersebut. Jika tanahmu punya nama secara hukum negara, korporasi tidak bisa sembarangan datang membawa buldozer."
Di sudut lain, Ratih tampak sibuk menjelaskan sistem pelacakan logistik berbasis aplikasi sederhana kepada tiga orang perwakilan petani singkong. Di bawah bimbingan Baskoro, Ratih kini bertransformasi menjadi mentor yang sangat berdedikasi. Keangkuhannya sebagai mantan eksekutif Jakarta telah melebur, berganti dengan ketajaman analisis yang kini ia baktikan sepenuhnya untuk rakyat.
### Riak Baru di Ibu Kota
Sementara Giringan sibuk menanam benih-benih kaderisasi, Jon justru baru saja kembali dari Jakarta dengan wajah yang ditekuk. Langkah kakinya yang tergesa-gesa memicu derit kayu lantai rumah panggung yang cukup nyaring.