Tetes Embun

Elawati
Chapter #43

Menjaga Bara Di Tanah Leluhur


Kemenangan di pelataran Sudirman segera menjadi buah bibir nasional. Rekaman video kurir yang menangis saat mencicipi soto asli Giringan viral di media sosial dengan tagar #KembaliKeRasaAsli. Gelombang simpati publik mengalir deras. Namun, Embun tahu betul karakter musuh mereka: korporasi besar seperti AgroTech Global tidak akan mundur hanya karena kalah sentimen di media sosial dalam semalam.

Seminggu setelah "Festival Daulat Rasa", armada Dapur Singgah kembali ke Giringan. Kedatangan mereka disambut riuh oleh warga desa dan para siswa Sekolah Akar Rasa. Namun, belum sempat melepas lelah, sebuah tantangan baru sudah menunggu di atas meja kerja Embun.

"Adrian menggunakan kekuatan modalnya untuk memotong jalur hulu kita, Neng," ujar Jon sambil menyerahkan tumpukan berkas laporan dari berbagai daerah mitra.

Ratih yang sedang memeriksa data di laptopnya ikut menimpali, wajahnya kembali tegang. "Dia tahu kita menang di hilir, di hati konsumen. Maka sekarang dia menyerang pasokan kita. AgroTech baru saja meluncurkan program 'Kontrak Sejahtera' untuk para petani rempah di Gayo, Flores, hingga pesisir selatan."

"Kontrak Sejahtera?" Embun mengernyitkan dahi.

"Itu cuma nama kerennya, Mbak," sahut Yosef, pemuda Flores yang kini menjadi asisten Embun. "Intinya, AgroTech datang ke desa-desa kami membawa uang tunai yang sangat besar di depan. Mereka mau membeli seluruh hasil panen mete, kemiri, dan ketumbar selama lima tahun ke depan. Syaratnya satu: petani dilarang menjual sebutir biji pun ke Koperasi Akar Rasa atau Pusat Logistik Daulat."

Baskoro yang sedang mengisap rokok klobotnya mengembuskan asap tipis. "Taktik klasik. Strategi bumi hangus. Mereka sengaja merugi di awal dengan membeli bahan baku di atas harga pasar, demi membuat pasokan logistik kita kering. Begitu koperasi kita mati karena tidak punya barang untuk dijual, mereka akan menurunkan harga beli kepada petani sekecil mungkin. Saat itu terjadi, petani sudah terikat kontrak hukum dan tidak bisa berkutik."

### Ujian Pertama Sekolah Akar Rasa

Malam itu, suasana di kolong rumah panggung Embun terasa magis sekaligus mencekam. Belasan pemuda angkatan pertama Sekolah Akar Rasa berkumpul. Di tangan mereka ada gawai yang terus berdering—pesan dari orang tua mereka di kampung halaman, mengabarkan tentang tim sukses AgroTech yang datang membawa koper berisi uang dan surat kontrak.

"Mbak Embun, jujur kami goyah," kata seorang pemudi utusan petambak garam Madura. "Tahun ini hasil garam kami sedang turun akibat cuaca buruk. Tawaran uang muka dari AgroTech bisa memperbaiki rumah orang tua kami di kampung."

Yosef berdiri, wajahnya memerah. "Tapi itu jebakan, Nila! Kalau kita tanda tangan, kita menjual leher kita sendiri ke mereka!"

Lihat selengkapnya