Tetes Embun

Elawati
Chapter #44

Retakan Di Menara Kaca


Kabar mengenai runtuhnya rencana "Kontrak Sejahtera" di tingkat tapak menghantam ruang kerja Adrian seperti martil. Dari balik dinding kaca lantai 22 yang menghadap langsung ke arah jantung kota Jakarta, pria itu menatap kosong pada laporan infografis digital di tabletnya. Warna merah mendominasi bagan pasokan bahan baku AgroTech Global.

Di Flores, para petani mete membakar draf kontrak AgroTech di tengah alun-alun desa. Di Madura, petambak garam justru membentuk barikade budaya, mengembalikan koper-koper uang muka yang dibawa oleh tim lapangan AgroTech. Sistem "Saham Semesta" yang digagas Embun dan Ratih telah menyebar bagai virus, diadopsi oleh ratusan komunitas konsumen urban yang dengan sukarela membiayai masa tanam para petani di desa.

"Bagaimana bisa sistem tanpa jaminan agunan seperti itu mengalahkan modal kita?!" suara Adrian meninggi, membuat asistennya tertunduk gemetar.

"Mereka... mereka tidak menggunakan bank, Pak," jawab sang asisten terbata-bata. "Koperasi Akar Rasa menggunakan sistem saling percaya berbasis *blockchain* lokal sederhana yang dirancang oleh Ratih. Konsumen di kota merasa seperti 'mengadopsi' sepetak tanah di desa. Setiap perkembangan tanaman dilaporkan secara transparan lewat aplikasi. Mereka merasa memiliki hubungan emosional, Pak."

*Hubungan emosional.* Istilah itu terdengar menjijikkan di telinga Adrian yang terbiasa mengukur segalanya dengan angka efisiensi dan margin keuntungan.

"Ratih..." desis Adrian. Ia tahu betul siapa Ratih—mantan rekan sejawatnya sesama eksekutif di Jakarta yang kini membelot menjadi otak digital di belakang Embun. "Dia menggunakan senjata kita untuk melawan kita sendiri."

Adrian mengambil ponselnya, menekan sebuah nomor yang selama ini tersimpan di daftar kontak paling rahasia. Sudah saatnya ia menggunakan jalur belakang yang lebih represif: regulasi negara.

### Tamu dari Dinas

Satu minggu kemudian, ketenangan di Pusat Logistik Daulat di Giringan terusik oleh kedatangan tiga unit mobil hitam berpelat dinas dari ibu kota. Beberapa pria bersafari turun, didampingi oleh aparat keamanan setempat. Mereka membawa map tebal bersimbol lembaga karantina dan sertifikasi pangan nasional.

Jon yang sedang memimpin bongkar muat gabah langsung menghadang mereka di gerbang depan. "Ada keperluan apa ini, Pak? Semua izin usaha Koperasi Akar Rasa sudah lengkap dan disahkan pengadilan agraria tahun lalu."

Lihat selengkapnya