Tetes Embun

Elawati
Chapter #47

Kembali Ke Rempah Bakar

Langkah Embun melepas kode sumber *open-source* Saham Semesta bak melempar granat ke dalam akuarium kaca korporasi. Namun, bagi Embun, perjuangan bukan hanya soal perang data di ruang siber atau diplomasi di hotel berbintang. Perjuangan sejati, baginya, selalu kembali ke tempat semula: aroma kuah rempah yang mengepul dan bunyi gemercik lemak yang terbakar di atas tungku.

**Kedai Rasa Ibu.**

Di sudut petak kecil di kawasan Terminal yang berbatasan dengan pemukiman padat, kedai sederhana itu tetap berdiri kokoh. Di sinilah "dapur taktis" gerakan mereka sebenarnya berada. Sejak pelarangan sepihak oleh dinas sebulan lalu dicabut, kedai ini tidak pernah sepi. Bau harum dari **Soto Bakar khas Rasa Ibu**—daging sapi pilihan yang dimarinasi ketumbar dan madu hutan Giringan, dibakar di atas arang batok kelapa, lalu disiram kuah santan encer kaya rempah tanpa MSG—selalu sukses memicu antrean panjang sejak pukul sepuluh pagi.

Bagi para pekerja kantoran, mahasiswa, hingga sopir ojek daring, mangkuk soto bakar seharga dua puluh lima ribu rupiah itu adalah bentuk solidaritas yang bisa dikecap lidah.

"Neng Embun, pesanan nomor empat belas, soto bakar daging kikil garing, kuahnya pisah!" seru Jon dari balik anyaman bambu pembatas dapur, tangannya cekatan mengipasi soto di atas bara api hingga memercikkan aroma gurih yang magis.

Embun yang mengenakan celemek kain belacu tersenyum, mengantarkan mangkuk tanah liat itu langsung ke meja pelanggan. Di kedai ini, ia bukan "Srikandi Pangan" yang ditakuti Adrian; ia adalah Embun, pemilik kedai yang ramah, yang tahu persis seberapa banyak taburan bawang goreng yang disukai pelanggannya.

### Menu Baru di Papan Tulis

Di sudut kedai, Ratih duduk dengan laptopnya yang dipenuhi baris kode baru. Di sampingnya, sebuah papan tulis kapur bertuliskan menu hari ini menarik perhatian setiap orang yang datang. Di bawah tulisan *Soto Bakar Rasa Ibu*, kini ada menu tambahan baru:

> **Menu Demokrasi: Pindang Patin Organik & Sambal Mete Flores.**

> *Bahan 100% dipasok langsung dari jaringan Saham Semesta Nusantara. Scan QR Code di meja untuk melihat peta peternak dan petani yang Anda hidupi hari ini.*

>

"Respons rilis *open-source* kita di luar dugaan, Embun," kata Ratih saat Embun menghampirinya dengan segelas es teh serai. "Dalam waktu 48 jam, kode aplikasi kita sudah diunduh oleh tiga puluh empat aliansi tani di Sumatra dan Sulawesi. Mereka tidak butuh server mahal. Mereka pakai komputer bekas di balai desa."

Embun duduk, menyeka keringat di dahinya dengan ujung celemek. "Alhamdulillah. Lalu, bagaimana dengan Adrian?"

Lihat selengkapnya