
Sebuah bolpoin disimpan kembali pada tempat asalnya. Gadis berambut panjang yang tengah menggulung asal rambutnya tersenyum menatap kertas di hadapannya. Kertas HVS yang sudah terisi penuh oleh karangan cerpen miliknya.
Itu bukan kompetisi lomba, melainkan tugas sekolah yang harus dikumpulkan besok pagi. Kalo tidak ... siap-siap cosplay menjadi ikan asin.
Dipanggang, bukan digoreng~!
"Akhirnya ... selesai juga tugasnya," kata Yosandrea sambil menyelipkan kertas HVS tersebut pada buku untuk mencegah ketinggalan.
Pandangan Yosandrea teralihkan pada dus-dus besar di samping meja belajar. Entah, apa isi dus tersebut Yosandrea sudah lupa dan siang tadi Yosandrea berniat untuk membereskan kamarnya, tetapi karena sibuk membantu bunda di dapur malah jadi lupa.
Melirik pada jam dinding waktu baru pukul delapan malam dan kebetulan Yosandrea belum mengantuk, ia pun berniat membereskan kamarnya mulai detik ini. Perlahan gadis itu meraih dus-dusnya, tentu Yosandrea akan membuka dus tersebut.
"Ini apa ya?"
"Banyak banget dus, perasaan gue jarang shopping deh–kayaknya," katanya sendiri.
KAYAKNYA!
Satu persatu Yosandrea membuka dus tersebut dan isi dari dus itu rata-rata mainan, alat tulis waktu SD dan ... entah, ini satu lagi apa ya?
Yosandrea pun membuka dus terakhirnya dan sejak saat dus itu terbuka Yosandrea membeku di tempat. Isi dari dus itu mengingatkan kembali Yosandrea pada delapan tahun yang lalu.
"Ava ..." katanya saat meraih bola kristal tersebut.
Ya, Yosandrea masih ingat soal bola kristal ini. Bola yang seharusnya menjadi kebahagiaan di hari ulang tahunnya, malah berubah menjadi kesedihan. Saat itu Yosandrea menyalakan bola kristal dan langsung menangis terisak-isak. Saat itulah bola kristal ini menjadi obat rindu Yosandrea kepada teman masa kecilnya.
Kenan Arvaenza.
Yang lainnya, Yosandrea ambil. Dua buah kertas berbentuk pohon?
Ini apa ya?
Ah! Yosandrea baru teringat kertas berbentuk pohon ini adalah pohon salju-saljuan. Mainan ini dibeli sepulang sekolah bersama Kenan. Saat itu Kenan berjanji akan melihat perkembangan pohon saljunya selama seminggu.
Dan katanya Kenan akan sesekali menjenguk Yosandrea, tapi itu semua bohong, Kenan tidak pernah kembali lagi ke sini setelah perpisahan itu.
"Padahal ... pohon salju ini waktu udah seminggu hasilnya bagus. Salju-Salju di setiap tangkainya tumbuh banyak banget. Kalo aja waktu itu Kenan gak pergi–kita bakal bahagia bersama," kata Yosandrea dengan senyuman terpaksa diakhirannya.
"Apa sih, Rea, ngapain inget-inget masa itu lagi?" katanya sambil tertawa kecil.
Semua benda tersebut Yosandrea masukkan kembali pada dus, tetapi ada salah satu dari benda tersebut yang Yosandrea keluarkan.
Lonceng angin.
Lonceng angin itu masih bagus hingga saat ini, hanya saja berdebu.
Yosandrea meraih tisu basah yang berada di atas nakas, ia mencoba membersihkan lonceng anginnya. Yosandrea berniat akan membeli yang baru, tapi dilihat-lihat lonceng angin ini masih bagus dan masih layak dipakai.
Setelah lonceng anginnya bersih dan kembali mengkilap, gadis itu membuka pintu jendelanya. Ia memasangkan lonceng angin tersebut sama seperti dulu di saat ia baru pindah pertama kali ke rumah ini.
"Lucu," katanya sambil memainkan loncengnya pelan.
Detik berikutnya Yosandrea malah menguap, ia mengucek-ngucek matanya yang sudah terasa berat. Sampai sini saja dulu beres-beres kamarnya. Eh, bisa dibilang beres-beres tidak, sih? Yosandrea hanya mengecek barang saja tadi.
Tirai jendelanya dan juga satu pintu jendelanya, Yosandrea tutup, kecuali jendela yang terdapat lonceng angin itu.
Setelah tubuhnya berbaring terasa tenang sekali, tetapi pikirannya kembali teringat soal Kenan. Hari ke satu tanpa Kenan di sini, Yosandrea merasakan kesepian.
Biasanya setiap malam ada orang yang mengganggu tidurnya lewat lonceng angin tersebut, tetapi setelah Kenan pergi itu pertama kalinya Yosandrea bisa tertidur nyenyak.
"Pengen rasanya, gue balik lagi ke masa kecil itu," katanya.
Lalu, Yosandrea mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping. "Indah aja gitu tanpa beban pikiran. Walaupun gue selalu dibikin emosi sama dua cowok–"